Oleh: Frederich Suselisu: Mantan Jurnalis Harian FAJAR
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebagai sekadar kawan bicara, namun ada pula yang hadir sebagai kompas. Bagi saya, almarhum Bapak Junus Pakanan bukan sekadar nama besar di panggung politik Tana Toraja atau barisan redaksi Harian Fajar; beliau adalah kompas, guru, sekaligus muara ilmu yang tak pernah kering.
Jejak tinta di eranya pun dialirkan ke saya, pesannya selalu jaga marwah Fajar dalam tugasmu ini pesannya selalu.
Mengenang sosok beliau adalah memutar kembali memori ke era 1980-an hingga 1990-an. Sebagai wartawan senior Harian Fajar, Pak Junus adalah penganut setia jurnalisme presisi yang humanis. Di tangannya, berita bukan sekadar tumpukan kata, melainkan alat untuk menyuarakan kebenaran.
Sebagai sesama alumni Fajar, saya melihat bagaimana beliau mengolah diksi dengan ketajaman nurani. Beliau mengajariku bahwa pena adalah senjata, namun kebijaksanaan adalah kendalinya. Beliau tidak hanya mengajarkan cara menulis berita yang benar, tetapi bagaimana menjadi manusia yang benar di balik tulisan tersebut.
Sosoknya adalah Beringin senjati yang mengayomi , bersama membangun AMPG, berkarya di Kosgoro dan AMPI jadi kenangan besar dalam berjuang di barisan karya dan kekaryaan masa silam yang hari ini tetap bersemi dalam ingatan saya sebagai salah seorang anak kadernya.
Di ranah politik, integritas bung Junus adalah “Beringin Sejati”. Sebagai sesepuh Partai Golkar Tana Toraja, Pak Junus Pakanan adalah simbol loyalitas yang tegak lurus. Beliau bukan tipe politisi yang mengejar riuh rendah tepuk tangan, melainkan tokoh yang bekerja dalam sunyi demi kemaslahatan kader dan masyarakat.jabatan terahirnya selaku Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar DPD II Tana Toraja.
Dalam banyak kesempatan saat kami bersama-sama di Golkar, beliau selalu menekankan bahwa politik adalah jalan pengabdian, bukan jalan pintas. Beliau adalah guru kader yang mendidik dengan teladan, bukan sekadar instruksi.
Warisan yang abadi tentang ajaran jurnalis ‘cubit tapi mesra’ jadi pelajaran terbesar yang saya petik dari beliau adalah kerendahan hati. Meskipun beliau adalah sosok senior yang sangat disegani, beliau selalu membuka ruang diskusi bagi kami yang muda dengan penuh kesabaran. Beliau adalah jembatan antara idealisme jurnalistik dan realitas politik yang seringkali rumit.
Kini, sang pelita itu telah beristirahat dengan tenang. Namun, api ilmu yang beliau titipkan pada saya—baik saat kami masih bergelut dengan mesin tik dan faxmail ke redaksi maupun saat menyusun strategi di partai—akan terus saya jaga agar tetap menyala.
Selamat jalan, Pak Junus. Terima kasih telah menjadi guru yang sabar, senior yang mengayomi, dan sosok yang mengajarkan saya arti menjadi kader sejati. Doa kami menyertai kepulanganmu ke haribaan Sang Pencipta.
(Redaksi )












