Berita  

Viral , Ala Ma’ Toding Para ‘OKB’ Diaspora Toraja Saat Mudik Nataru


Bagikan:

MEDIANTANEWS

MAKALE, – Jadi viral di beberapa platform media sosial Toraja, mudik Nataru ( Natal dan Tahun Baru ) para diaspora mulai hamburkan cuannya. Ala Ma’toding jadi cara baru bagi para ‘ Orang Kaya Baru ( OKB bukan bermakna negatif.red ) perantau yang sukses dari rantau.



Mudik tanpa tangan kosong, mereka datang dengan kantong tebal.
Bukti dan cara sukses ini harus dimaanfaatkan pemda, diaspora pulang bawah uang tentu efek ekonominya besar dan potensi jadi tambahan PAD. Fenomena baru ini bisa jadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah.

Sudah sepekan berlangsung diberbagai tempat di Tana Toraja dan Toraja Utara, kegiata upacara adat digelar. Salah satunya yang mengundang perhatian adalah acara syukuran atau rambu tuka merok atau kegiatan syuluran rumah adat tongkonan. Luar biasa ekspresi perayaannya, uang terhambur dengan segala cara, bahkan dollar pun kelihatan dibuat jadi saweran.

Sejumlah tempat di Toraja Utara acara itu ditandai dengan kegiatan tari nondo, tarian adat syukuran yang diperankan oleh wanita lalu disawer atau ditoding. Dulu hanya paling sepuluh hingga seratus ribu, sekarang jadi puluhan juta rupiah yang diikat atau ditempel menggunakan tali lalu dikalungkan serta bentuk lain.

Respon warga beragam, tak sedikit ada yang nyinyir seolah tak setuju dan dianggap berlebihan namun tak sedikit pula yang menyanjungkan jika itu jadi prestasi dan tanda kesuksesan.

Sosiolog dan pemerhati sosial , Dr Kristian HP Lambe dosen pasca sarjana UKIP Makassar memberikan tanggapannya.

Kata dia pandangan sosiologis terkait Tradisi Ma’toding dalam Rambu Tuka’ masyarakat Toraja merupakan bentuk pemberian uang atau saweran kepada penari sebagai ungkapan sukacita dan dukungan komunal.

Kritik bahwa praktik ini berlebihan dan menjurus pada pamer kekayaan, terutama oleh diaspora yang sudah jadi OKB , mencerminkan pergeseran nilai dari solidaritas sosial menjadi simbol status. Kajian sosiologis ini menganalisis fenomena tersebut melalui lensa stratifikasi sosial, hedonisme, dan dinamika diaspora.

Terminologi Ma’toding berasal dari tradisi khas suku Toraja yaitu syukuran Rambu Tuka’, seperti peresmian Tongkonan atau pernikahan, di mana saweran diselipkan pada penari untuk menghormati seni dan mempererat silaturahmi. Secara sosiologis, ini mirip pa’pandan atau pemberian hadiah yang awalnya simbol syukur kepada Tuhan dan gotong royong keluarga.

” Praktik ini memperkuat ikatan komunal Toraja, di mana pemberian bukan sekadar materi tapi pengakuan kontribusi budaya. Kemudian pelaksanaan Ma’toding kini sering berlebihan dengan uang dalam jumlah besar yang dikalungkan secara mencolok, dianggap menyimpang dari adat ,” jelas Kristian, Minggu 21 Desember 2025.

Lanjut dia hal ini mencerminkan stratifikasi sosial Toraja, di mana upacara adat seperti Rambu Tuka’ menjadi ajang gengsi untuk menunjukkan strata tinggi, meski aslinya ditentukan oleh keturunan.
” Kritik ini menyoroti bagaimana modernisasi mengubah makna ritual menjadi kompetisi ekonomi, ” katanya lagi.

Diaspora Toraja kata Kris lagi merantau sering pulang membawa uang besar untuk Ma’toding, sebagai bukti kesuksesan di luar daerah dan reintegrasi sosial. Fenomena ini memicu hedonisme, di mana pengeluaran berlebih oleh orang kaya baru (OKB) membebani ekonomi lokal dan menciptakan utang keluarga, serupa dengan pola di Rambu Solo’. Perspektif Sosiologis, bahwa ini adalah bentuk conspicuous consumption (konsumsi yang mencolok) untuk validasi status di masyarakat egaliter Toraja yang kini tersegmentasi.

Lanjutnya Implikasi Sosiologisnya bahwa tradisi ini mendorong perputaran ekonomi lokal tapi berisiko memperlemah nilai spiritual Toraja akibat kapitalisasi.

Solusi potensial melibatkan reinterpretasi adat untuk menekankan kualitas pemberian daripada kuantitas, guna menjaga identitas budaya dari degradasi hedonistik. Diaspora perlu diarahkan pada kontribusi berkelanjutan, bukan pameran sesaat.

Dampak ekonomi positif, jadi pemberian uang dalam jumlah besar oleh diaspora dan “orang kaya baru” (OKB) menciptakan multiplier effect, di mana uang beredar ke pedagang lokal, seniman, dan panitia acara, sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat Toraja. Fenomena ini mirip rangsangan atau stimulus ekonomi dari upacara adat, yang menarik wisatawan dan mempertahankan industri kreatif tradisional seperti tarian adat dan musik bernuansa adat.

” Bahwa Ma’toding positif sebagai mekanisme adaptasi modern yang menjaga identitas Toraja di tengah globalisasi. Pelestarian Budaya dan Status, tradisi ini melestarikan seni penari Toraja dan nilai syukur (Rambu Tuka’), sambil memberikan validasi sosial bagi yang sukses di perantauan tanpa mengubah strata adat secara destruktif, ” pintanya.

( * / fred )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses