MEDIANTANEWS
MAKALE, – Kabar haru dan membanggakan dari kabupaten pegunungan Papua Tengah ditunjukkan oleh empat tenaga kesehatan ( Nakes) asal Toraja. Empat perempuan berdedikasi dan bernyali itu mengabdikan diri ditengah tantangan pedalaman Papua.
Dian Pongsisonda ( Tallunglipu ), Berta Pasubak ( Bokin ), Reamiati Sakke ( Tikala) dan Raynensi Hana ( Palopo / Toraja ) sudah kurang lebih empat tahun mempertaruhkan nyawa untuk dedikasi mereka sebagai ASN di Puskesmas Doufo salah satu distrik kabupaten Puncak Pegunungan , Papua Tengah.
Wilayah rendah pegunungan dikelilingi beberapa telaga untuk sampai disana hanya bisa ditempuh via udara dengan pesawat jenis tipe pilatus ( Forter PC-6 ) itu dengan bandara runway dari tanah yang tidak rata, pesawat tua lagi, tanpa fasilatas standar penerbangan. Satu jam waktu tempuh dari Timika, pendaratan di bandara dengan runway jalan tanah tanpa petugas layaknya bandara biasa, situasinya sangat menegangkan, baik saat mendarat maupun saat take off.
Penerbangan menegangkan itu tak jadi masalah lagi bagi mereka, meski untuk pasokan sembako dan kebutuhan kesehatan sangat tergantung dari sarana transportasi itu. Suasana esktrim dan pelayanan sudah jadi hal biasa. Penerbangan hanya sekali seminggu, tergantung situasi dan kondisi cuaca, dulu bersubsidi kini sudah berbayar lagi.
Jangkauan wilayah pelayanan kesehatan mereka lebih banyak ditempuh menggunakan sampan dengan penuh resiko mereka tetap hadapi meski beberapa kali perahu mereka terbalik dan beruntung bisa selamat.
Puskesmas mereka, satu-satunya fasilitas pemerintah yang aktif disana, ada sekolah dan kantor pemerintahan tetapi tidak ada guru dan staf , mereka tidak betah dan tidak tahan dengan kehidupan wilayah pedalaman tersebut. Keempatnya teguh dan kompak , misinya adalah tanggungjawab pengabdian .
Itu sebagian kesaksian tugas dan keberadaan para Nakes itu yang dituturkan Dian kepada media ini.
Nyali keampatnya jadi taruhan dan harus jadi pilihan. Jangan fasilitas soal butuhan sehari- hari saja sangat terbatas, kalaupun ada, itu dengan harga yang sangat tinggi.
Tak siaran TV, yang ada hanya jaringan internet, penduduknya sebagian besar buta huruf dan tak bisa berbahasa Indonesia. Kepala kampungnya saja hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa lokal disana. Suasana diantara mereka terjalin akrab.
” Iya beruntung kami dengan mereka sangat dekat, penduduknya baik, kami sabar menjalani tugas kami, ini tanggungjawab yang harus kami jalani dengan penuh rasa pengabdian, ” kata Dian alumni STIKES Toraja 2017 , Selasa 7 Mei 2024. Ketiga temannya itu merupakan alumni dari perguruan tinggi kesehatan yang ada di Tana Toraja dan Toraja Utara
Lalu bagamana ancaman kelompok separatis yang kerap menimbulkan teror hingga pembunuhan di wilayah pegunungan, sepertinya hal itu tak lagi jadi hal yang menakutkan walaupun harus mereka tetap waspada dan jaga diri. Wilayah mereka berada kaki pegunungan jadi situasinya agak jauh dari lokasi dan jangkauan kelompok separatis ( KKB).
” Sudah itu tantangannya, kita hanya berserah berdoa dan waspada, wilayah kita berada di tepi telaga, yang jelas jika dilihat dari wilayah pelayanan ini sangat ekstrim dan penuh tantangan, ” kata Dian lagi.
Menjalani tugas yang sarat meneganfkan itu berhasil mereka lalui dengan semangat dan dedikasi tinggi, sekalipun mereka jauh, dalam suka dan duka kampung mereka tetap jadi ikatan kerinduan untuk selalu dikenang.
” Kami semua tetap rindu dengan kampung , setiap ada waktu libur kami pulang, doakan kami untuk tetap kuat dalam bakti dan pengabdian kami, dari Doufo Puncak Pegunungan titip rindu buat semua di Toraja, ” ungkapnya dengan nada ceria.
( * / fred ).













