MEDIANTANEWS
RANTEPAO – Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Gereja Toraja pada Maret mendatang, sebuah narasi besar mulai digulirkan.
Tidak sekadar jadi seremoni ibadah, tahun ini Gereja Toraja di bawah kepemimpinan Ketua Umum Badan Pekerja Sinode (BPS), Pdt. Alfred Anggui, meluncurkan gerakan Toraja Mengajar sebagai ruh utama perayaan.
Toraja Mengajar dianggapnya sebagai tanaman berbuah harapan dalam memanen sukses bersaing dengan pasar dan kesempatan kerja yang sarat dan multi ketat. Sekaligus gerakan ini menjaga mimpi anak negeri meraih sukses masa depan dalam berbagai bidang.
Sebelumnya, perayaan HUT tahun lalu berpihak pada tema gerakan cinta lingkungan, tahun ini adalah pentingnya pendidikan, Gereja Toraja mau, semua generasi muda Toraja terpapar bekal pendidikan .
Pdt. Dr Alfred Anggui menegaskan bahwa tema ini adalah alarm keras bagi semua pihak. Ia menyebutkan bahwa kekuatan sejati masyarakat Toraja bukan terletak pada kekayaan alam semata, melainkan pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Bagi Pdt Alfred, pendidikan jadi pondasi dan benteng terakhir menghadapi persaingan global khususnya soal kesempatan dan lapangan kerja.
Dalam keterangannya kepada media ini , Pdt. Alfred mengungkapkan kekhawatirannya sekaligus optimismenya terhadap masa depan generasi muda Toraja. Menurutnya, dunia kerja saat ini tidak lagi berkompromi dengan ketidaksiapan. Harus siap sejak awal, solusinya bukan apa atau siapa tetapi pendidikan.
“Momentum HUT ini adalah pengingat kesadaran bagi kita semua akan pentingnya pendidikan. Kekuatan Toraja itu ada di SDM kita. Kita ingin ada persiapan dini bagi generasi muda melalui pendidikan agar mereka mampu menembus persaingan lapangan kerja yang kian hari kian ketat,” ujar Pdt. Alfred dengan nada lugas, Selasa 17 Pebruari 2026.
Panggilan jadi volunteer sebagai tenaga pengajar dari semua pihak ke pelosok – pelosok jadi gerakan pokok HUT ke-79 ini.
Toraja Mengajar diposisikan sebagai gerakan inti yang melibatkan aksi nyata di lapangan. Gereja Toraja memanggil seluruh elemen masyarakat untuk menjadi relawan (volunteer.red ) pendidikan, khususnya untuk menjangkau wilayah-wilayah pelosok yang masih minim akses literasi dan pendampingan belajar.
Gerakan ini diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak di pedalaman agar mendapatkan standar pengetahuan yang sama dengan mereka yang di kota.
Tidak hanya mereka yang berada di Tana Toraja atau Toraja Utara, Pdt. Alfred juga memberikan pesan khusus kepada para diaspora Toraja yang tersebar dimana mereka berada . Ia berharap sukses yang diraih di perantauan dapat dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi pendidikan di kampung halaman, termasuk untuk jadi volunteeer.
Rangkaian HUT ke-79 ini akan diisi dengan berbagai aksi sosial pendidikan sebelum akhirnya ditutup dengan Ibadah Syukur Puncak pada bulan Maret mendatang.
Melalui Toraja Mengajar , Gereja Toraja ingin memastikan bahwa perayaan usia ke-79 ini meninggalkan warisan intelektual yang abadi, bukan sekadar riuh rendah pesta sesaat. Kepada yang ingin berpartisipasi panitia sudah membuka kanal pendaftaran.
Rangkaian HUT dimulai 8 Maret 2026 dengan ibadah pembukaan dan pengutusan tim Toraja Mengajar, selanjutnya 9- 14 kegiatan Toraja Mengajar di Parodo, Baruppu, Bastem, Rantepao dan Makale, seminar dam kuliah umum.
Selanjutnya 25 Maret 2026 ibadah syukur HUT di Tongkonan Sangullele, Rantepao , 26- 28 Expo UKI Toraja di Alun- Alun Kita Rantepao, 27-29 Maret 2026 kegiatan MPK dan YPKT Mengajar di Simbuang, dan ditutup ibadah syukur HUT disemua jemaat Gereja Toraja 29 Maret 2026.
( * / fred )














