MEDIANTANEWS
MAKALE, – Kebijakan dan perhatian bagi disabilitas di Tana Toraja baru sebatas program. Sebut dan lihat aktifitas Gilberto Silvanires disabilitas fisik yang punya usaha, jadi tumpuan keluarga meski luput dari bantuan perhatian pemerintah daerah.
Kisahnya itu sekaligus jadi catatan kelam ahir tahun bagi perhatian perhatian pemerintah daerah bagi pata penyandang disabilitas.
Kisahnya dalam berusaha jadi inspirasi positif. Tanpa bantuan modal dari siapa- siapa , keberadaan keterbatasan organ fisik sejak lahir tak membuatnya patah semangat untuk punya pekerjaan dan usaha sendiri. Ia tak melanjutkan pendidikannya dan memilih berusaha mandiri karena alasan keterbatasan kehidupan keluarganya.
Silvanires dengan kisahnya jadi wajah kelam komitmen kebijakan inklusif pemerintah Tana Toraja. Perda Kabupaten Inklusif dan Pelindungan Disabilitas kesannya tak serius dijalankan.
Perhatian disabilitas jadi catatan suram ahir tahun karenakesungguhan perhatian terhadap disabitas masih kelam selama ini. Dia itu meski punya potensi tapi tak dilirik bshkan tersentuh bantuan dari pemerintah malah tidak sama sekali.
Silvanires dengan segala keterbatasannya menjalani hidupnya , memulai usaha kedai kopi kemasan lokal. Ia buka usaha di bilangan poros protokol Makale – Rantepao, tepatnya di Pantan Makale.
Ia menempati ruang tiga kali satu meter di depan kantor Golkar , saban hari hingga malam ia menjajalkan usahanya yang ia rancang sendiri , cari modal sendiri dan ia kelolah sendiri.
Tak pernah mendapat perhatian apalagi bantuan dari pemerintah, meski dengan hasil sangat pas- pasan ia nengaku sudah bisa membantu kehidupan orang tuanya bahkan sesekali ikut menyokong kebutuhan pendidikannya saudaranya..
Tertatih – tatih dengan perjalanan usahanya, Silvanires tak patah semangat dalam berusaha, ia membuat jargon kedainya dengan nama Punti Memputa’ ( Banana Roll ).
” Hasilnya kadang ada kadang tidak ada, modal memang tidak ada, tak pernah ada bantuan pemerintah tapi puji Tuhan buat makan dan bisa membantu keluarga seberapa saja itulah hasilnya, ” terang Silvanires, Rabu 30 Desember 2025.
Orang tuanya yang tak punya pekerjaan tetap, membuatnya harus mencari pekerjaan dan berusaha, bahkan tak menyurutkan semangatnya untuk bisa punya pekerjaan meski dengan keberadaan fisik yang terbatas.
Di dalam kota Makale saja keberadaan disabitas luput dari jangkauan perhatian bantuan pemerintah bagaimana yang di pelosok, pada hal sudah ada organusasinya.
Dinas Sosial pun begitu, tak ounya perhatian dan terkesan tutup mata , mereka hanya bergerak ketika tahu ada ada masalah, pro aktif untuk pemberdayaan para disabilitas masih sangat minim .
Betulkan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia ( PPDI ) tak diakui atau keberadaanya tidak diketahui pemerintah daerah dalam mendampingi dan melindungi serta memperjuangkan pemberdayaan disabilitas di Tana Toraja.
” Saya tidak tahu itu, mungkin tidak diketahui oleh pemerintah daerah , masak tidak bisa fasilitasi kita dalam mendapatkan perhatian, itu ada mi organisasinya tapi tidak berdaya katanya karena itu tadi mungkin tidak diketahui oleh pemerintah daerah, ” ujarnya.
( * / redaksi )













