iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta

Refleksi Mubes PMTI: Arah di Titik Krusial dan Kurasi Masa Depan Toraja


Bagikan:

MEDIANTANEWS:EDITORAL

SOROT REDAKS,- Musyawarah Besar (Mubes) Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) yang berlangsung hari ini di Jakarta, Sabtu 10/10/2026 , bukan sekadar agenda rutin lima tahunan di atas kertas.

Pertemuan akbar para kaum cerdik-cendekia, tokoh adat, diaspora, dan pengambil kebijakan ini hadir di saat yang krusial. Hari ini, PMTI berdiri tepat di persimpangan jalan: apakah ia akan tetap nyaman menjadi ruang nostalgia dan paguyuban kultural yang rigid, atau melompat maju menjadi kurator masa depan Toraja yang inklusif?

Sebagai organisasi wadah diaspora terbesar bagi warga Toraja di seluruh dunia, PMTI memikul tanggung jawab moral yang berat. Menjadi kurator masa depan berarti PMTI harus mampu memilah, memilih, dan merumuskan mana dari nilai-nilai luhur Sangtorayan yang harus dipertahankan, dan mana inovasi global yang harus diadopsi.

PMTI tidak boleh lagi sekadar menjadi pemadam kebakaran saat ada riak sosial atau sekadar panggung seremonial elite. Ia harus menjelma menjadi think-tank yang aktif mendesain cetak biru pembangunan di kampung halaman.

Tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana menghadirkan Toraja di tengah arus modernisasi. Narasi ini bukan berarti menjebak diri dalam eksklusivitas atau etnosentrisme sempit.

Sebaliknya, menghadirkan Toraja untuk Toraja yang hebat dan dikafani adalah upaya progresif untuk memastikan bahwa pariwisata, pembangunan infrastruktur, hingga tata kelola wilayah tetap berpijak pada kedaulatan tanah adat dan kesejahteraan manusianya. Jangan sampai atas nama kemajuan, identitas kultural Toraja justru tercerabut dan menyisakan komodifikasi yang asing bagi warganya sendiri.

Oleh karena itu, refleksi Mubes kali ini tidak boleh hanya berhenti pada konsolidasi program kerja di atas meja. PMTI harus berani melakukan konsolidasi personal dalam tubuh organisasinya.

Wajah formasi kepengurusan PMTI ke depan harus benar-benar merefleksikan keindonesiaan dan ke-Toraja-an yang utuh. Sudah saatnya PMTI keluar dari jebakan dikotomi klasik atau dominasi faksi “Utara dan Selatan” (Toraja Utara dan Tana Toraja).

Tubuh kepengurusan PMTI harus dirombak agar lebih inklusif, merangkul seluruh bentang etnik rumpun suku Toraja secara geografis dan kultural tanpa sekat administratif.

PMTI adalah rumah besar bagi seluruh Sangtorayan, yang di dalamnya wajib memberikan ruang setara bagi representasi saudara-saudara kita dari Mamasa, serta wilayah sebaran etnik Toraja lainnya seperti Rongkong, Seko, hingga Luwu.

Persaudaraan berbasis Mesa Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate harus mewujud nyata dalam struktur, bukan sekadar pemanis pidato.
Inklusivitas ini juga ditandai dengan keterbukaan ruang bagi perang ide.

PMTI harus merangkul spektrum yang lebih luas: mendengarkan suara kritis generasi muda digital, memberi panggung bagi kaum perempuan, serta menyerap aspirasi masyarakat akar rumput di Lembang-Lembang yang seringkali tak terdengar di ruang rapat hotel berbintang.

Mubes hari ini adalah momentum refleksi sekaligus resolusi. Siapa pun nakhoda yang terpilih, publik tidak lagi menanti janji-janji linier. Yang dinanti adalah terobosan konkret dan kabinet kerja yang mencerminkan persatuan sejati seluruh rumpun Toraja.

Mari kita kawal bersama. Jangan biarkan momentum ini lewat begitu saja tanpa arti, karena masa depan Toraja sedang dipertaruhkan di meja sidang Mubes hari ini.

( redaksi )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses