MEDIANTANEWS ; OPINI
Oleh : Dr.Agustinus Baka,M.Pd
( Dosen Pascasarjana UKIP dan Ketua Bidang Sosial Budaya & Kemasyarakatan DPD PIKI Sulawesi Selatan)
Dalam lanskap sosial keagamaan Toraja, gereja tak lagi sebatas ruang ibadah dan liturgi demi meneguhkan iman. Menyusul tema Toraja Mengajar dalam perayaan HUT ke-79, Gereja Toraja beranjak ke ranah yang lebih luas: pendidikan sebagai tempat pengajaran nilai, karakter, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Toraja yang kian dinamis.
Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebuah upaya kontekstualisasi iman Kristen melalui pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Membaca Niat, Menimbang Dampak
Perayaan yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Maret 2026 mengusung rangkaian kegiatan Toraja Mengajar yang tidak hanya berpusat pada ibadah, tetapi juga seminar, kuliah umum, dan kelas mengajar yang menyasar wilayah pedalaman. Ratusan relawan, termasuk kepala daerah dan profesional lintas bidang, dilibatkan dalam gestur kolektif ini untuk memicu learning culture di antara generasi muda Toraja. Hal ini menunjukkan perubahan paradigma pelayanan gereja dari fungsi ritual menuju tindakan konkret pemberdayaan edukatif.
Langkah ini relevan secara sosial dan pastoral. Gereja, yang selama ini dikenal sebagai pilar spiritual di Toraja, mencoba merespons tantangan globalisasi dan kesenjangan sumber daya manusia dengan memberi ruang bagi anak-anak Toraja untuk bermimpi tentang masa depannya dan belajar. Dalam konteks masyarakat Toraja yang kuat akan warisan budaya dan tradisi lokal, inisiatif seperti ini berpotensi menjadi satu jembatan antara warisan budaya dan kompetensi masa depan, selaras dengan kebutuhan SDM yang kompeten dalam menghadapi era penuh perubahan.
Kontribusi pada Diskursus Teologi Kontekstual
Lebih jauh, proyek perubahan yang dikemas dalam Toraja Mengajar dapat dipahami sebagai bentuk teologi kontekstual, yang menggabungkan iman dengan tugas sosial. Gereja bukan hanya “mengajar tentang Injil”, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan formal dan non-formal sebagai medium pewartaan yang relevan dengan masyarakat luas. Ini mencerminkan pemahaman gereja yang tidak eksklusif pada ruang liturgi, tetapi mampu merespons panggilan zaman untuk memperluas manifestasi kasih dalam bentuk pelayanan praktis.
Dalam diskursus akademik teologi dan pelayanan gereja kontemporer, langkah ini menempatkan gereja sebagai aktor sosial yang berpijak pada iman sekaligus peduli terhadap isu pendidikan dan pemberdayaan manusia.
Tantangan dan Pertanyaan Kritis
Namun demikian, inisiatif ini juga menimbulkan beberapa pertanyaan reflektif untuk kajian akademik yang lebih mendalam:
1. Apakah program ini mampu menjembatani kesenjangan akses pendidikan di wilayah pedalaman secara berkelanjutan? seberapa besar durasi dampak yang akan dirasakan masyarakat setelah momen perayaan berakhir?
2. Bagaimana hubungan antara pelayanan pendidikan ini dengan fungsi institusional gereja sebagai wadah ritual iman? apakah ini memperluas atau malah menggeser peran tradisional gereja?
3. Apakah pendekatan program ini cukup inklusif terhadap kebutuhan masyarakat non-kristen di wilayah tersebut? mengingat Toraja adalah wilayah plural, refleksi teologis dan sosial perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Pertanyaan ini penting untuk menjadikan Toraja Mengajar bukan sekadar kegiatan periodik, tetapi proyek yang robust secara teologis dan strategis secara sosial.
Kesimpulan: Gereja sebagai Agen Pendidikan dan Emansipasi
Toraja Mengajar mencerminkan sebuah momen transformatif di mana Gereja Toraja bergerak dari celebrasi ritual menuju aksi nyata, dari sekadar pewartaan iman menjadi pemberdayaan sosial.
Inisiatif ini membuka ruang diskusi akademik tentang peran institusi keagamaan dalam pendidikan masyarakat dan pembentukan karakter generasi muda di era modern. Sebagai sebuah refleksi, program ini pantas diapresiasi sebagai bentuk pelayanan gereja yang progresif, namun juga perlu terus diuji secara kritis agar dampaknya nyata, berkelanjutan, dan inklusif.
( * / REDAKSI )














