‘Indok Toraya’ Ibu Guru Riska di Balik Senyum Murid SD 7 Kesu’


Bagikan:

MEDIANTANEWS

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, sebuah kisah sejuk hadir dari sudut ruang kelas di SD Negeri 7 Kesu’, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara. Berikut ulasannya

FREDERICH : Jurnalis MEDIANTANEWS.

Ini bukan sekadar cerita tentang kurikulum, melainkan tentang ketulusan seorang guru yang melampaui tugas formalnya.

Dia adalah Riska Dani Pulung, S.Pd. Di jagat maya, ia lebih dikenal dengan nama “Indok Toraya”. Namun, bagi murid-muridnya, ia adalah sosok ibu sekaligus pahlawan tanpa tanda jasa yang nyata. Rista bukan sekadar penggiat media sosial; ia adalah kreator yang mengubah notifikasi menjadi nutrisi bagi pendidikan.

Hal yang membuat kisahnya begitu humanis adalah bagaimana ia mengelola hasil dari aktivitasnya di berbagai platform media sosial. Alih-alih digunakan untuk kepentingan pribadi, hasil dari pemantauan (monev) dan monetisasi kontennya justru dialirkan kembali ke sekolah.

Dana tersebut ia gunakan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler serta menyediakan bantuan alat tulis bagi para siswa. Sosok yang dikenal luwes dan supel ini memang memiliki kedekatan emosional yang kuat, baik dengan murid maupun orang tua wali.

Di dalam kelas, Rista bukanlah guru yang kaku. Meski tetap menghormati aturan, ia berani menyesuaikan metode ajar agar relevan dengan kondisi riil anak didiknya. Baginya, pendidikan tidak boleh terasa asing dari konteks lingkungan sekolah.

Dedikasi Rista terlihat dari bagaimana ia mengisi “ruang hati” di sekolahnya. Tak jarang, ia menyisihkan sebagian rezekinya untuk membelikan alat tulis, perlengkapan laptop, hingga sekadar makanan kecil untuk menceriakan hari para murid.

“ Bukan berarti di sekolah kami tidak ada bantuan pendidikan, tetapi saya ingin memberi diri. Berbagi meski nilainya mungkin tidak besar, tapi maknanya adalah kami tidak sekadar menjalankan tugas. Saya ingin kita selalu merasakan kebahagiaan bersama,” ungkap Rista dengan nada haru.

Bagi Rista, menjadi guru bukan tentang mengejar lencana apresiasi atau pengakuan publik. Baginya, prestasi tertinggi adalah ketika ia mampu menjadi teladan yang tulus dan menghadirkan senyum di wajah anak-anak Toraja Utara.

Ia adalah potret nyata bahwa dedikasi seorang guru tidak hanya diukur dari angka di rapor, tetapi dari seberapa besar cinta yang ia tinggalkan di hati murid-muridnya.

( * / fred )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses