iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta

Keteladanan dari Gerbang SMAN 5 Tana Toraja: Saat Kepala Sekolah Memilih Turun ke Jalan Sambut Siswanya


Bagikan:

MEDIANTANEWS

MAKALE — Pagi itu, matahari baru saja mengintip di balik perbukitan To’ Kaluku. Arus lalu lintas di jalur utama yang membelah kawasan tersebut mulai padat. Yulius Roma Patandean, S.Pd.,M.Pd. Plh Kepsek SMA 5 Tana Toraja menunjukkan sikap humanis dan merangkul bagi siswanya, reaksi positif pun dari publik menghujaninya.




Deru mesin kendaraan bercampur dengan langkah tergesa-gesa para siswa yang mengejar bel masuk sekolah. Di tengah riuh rendah pagi, sesosok pria berpakaian dinas rapi berdiri tegap di depan gerbang SMAN 5 Tana Toraja.

Ia bukan petugas kepolisian, bukan pula petugas keamanan sekolah. Pria itu adalah Yulius Roma Patandean, Guru Penggerak yang baru saja mengemban amanah sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Kepala SMAN 5 Tana Toraja.

Tangannya bergerak lincah, memberi isyarat agar kendaraan memperlambat laju. Sesekali peluitnya berbunyi nyaring. Dengan senyum ramah yang tak lepas dari wajahnya, ia menuntun sekelompok siswa menyeberangi jalan raya yang rawan tersebut.


Aksi ini belakangan viral di media sosial, khususnya di jagat Facebook. Sebuah video amatir yang merekam aksinya memicu gelombang simpati dan pujian dari warganet. Di tengah sekat birokrasi dan formalitas jabatan yang sering kali menjaga jarak antara pimpinan dan realitas bawah, aksi Yulius menjadi oase yang menyegarkan.

Bagi Yulius, berdiri di aspal jalan bukan sekadar aksi spontanitas demi konten atau pencitraan sesaat. Menyeberangkan anak-anak dan mengatur lalu lintas telah menjadi aktivitas rutinnya saban pagi.

Sebelum bel masuk sekolah berbunyi, ia dipastikan sudah berdiri di depan gerbang, menyambut para siswa sekaligus bertarung dengan padatnya arus kendaraan.

Kawasan To’ Kaluku tempat sekolah ini berdiri memang bukan jalur biasa. Ini adalah kawasan padat sekolah dan perkantoran. Saban pagi, wilayah ini menjelma menjadi titik pertemuan arus massa yang luar biasa sibuk.

Ratusan pelajar dari berbagai tingkatan, pegawai negeri yang bergegas ke kantor, hingga angkutan umum lalu lalang berebut ruang di jalan raya yang relatif sempit.

Kondisi inilah yang membuat Yulius tergerak. Baginya, keselamatan siswa adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Dibandingkan hanya menunggu di ruangan ber-AC yang nyaman, ia memilih mengenakan peluitnya, turun ke jalan, dan menjadi pembuka jalan yang aman bagi generasi masa depan Tana Toraja.

Bagi sebagian orang, tugas seorang kepala sekolah mungkin berkelindan di balik meja kerja, memeriksa laporan, atau memimpin rapat-rapat penting. Namun, bagi Yulius, kepemimpinan adalah tentang kehadiran dan perlindungan langsung di lapangan.

“Seorang pemimpin tidak hanya memberi perintah dari belakang meja, tetapi harus berani berdiri di depan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan lingkungannya,” tulis salah satu rekan sejawat Yulius di kolom komentar Facebook miliknya.

Unggahan yang memperlihatkan konsistensi aksi nyata ini langsung dibanjiri ratusan komentar positif dan dibagikan ulang oleh netizen Toraja. Para alumni, orang tua siswa, hingga masyarakat umum memberikan apresiasi tinggi. Mereka melihat ada nilai kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab moral yang besar dalam tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari tersebut.

Gaya kepemimpinan yang ditunjukkan Yulius seolah menegaskan kembali esensi dari Merdeka Belajar dan konsep Ing Ngarsa Sung Tulada—di depan memberi teladan. Rutinitasnya di jalan raya To’ Kaluku bukan sekadar aksi heroik, melainkan sebuah pesan edukasi visual bagi para siswa tentang kepedulian terhadap sesama.

Melalui tindakan nyata ini, Yulius Roma Patandean membuktikan bahwa jabatan barunya sebagai Plh. Kepala Sekolah bukanlah sekat penjarak, melainkan sebuah ruang pengabdian yang lebih luas.

Ketika jam digital menunjukkan pukul 07.30 dan arus lalu lintas mulai terurai, Yulius meniup peluit terakhirnya pagi itu. Ia merapikan seragamnya yang sedikit basah oleh keringat pagi, tersenyum kepada staf keamanan sekolah, lalu berjalan masuk menuju ruang kerjanya.

Esok hari, saat matahari To’ Kaluku kembali terbit, pria dengan ‘ peluit’ itu dipastikan akan kembali berdiri di sana, setia menjaga gerbang masa depan anak-anak didiknya.

( * / fred )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses