MEDIANTANEWS
MAKALE , – Rencana besar Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Toraja untuk menghadirkan Fakultas Kedokteran pertama di lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Negeri (PTKKN) kini memasuki babak baru.
Meski telah mengantongi dukungan penuh dari berbagai pihak, IAKN Toraja tetap harus melewati jalur pemenuhan standar kelayakan nasional yang sangat ketat sebelum resmi menerima mahasiswa baru.
Dukungan strategis teranyar dibuktikan lewat penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama antara Rektor IAKN Toraja, Prof. Dr. Agustinus Ruben, dan Ketua Yayasan Kesehatan Gereja Toraja (YKGT), Dr. dr. Heber Bombang Sapan, Sp.B Subsp. BD (K), pada 8 Oktober 2026 di Rantepao.
Langkah ini juga mendapat apresiasi mendalam dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI di momentum Dies Natalis ke-62 IAKN Toraja.
Mengenai komitmen besar ini seperti dilansir dari media setempat , Rektor IAKN Toraja, Prof. Dr. Agustinus Ruben, M.Th., menegaskan bahwa penandatanganan kesepakatan tersebut bukan sekadar seremoni kelembagaan.
Langkah ini dirancang sebagai titik awal ekspansi peran kampus dalam melayani hajat hidup masyarakat luas.
“Pengembangan bidang kesehatan merupakan bagian dari upaya kampus memperluas pelayanan dan kontribusinya bagi masyarakat. Harapan IAKN Toraja dalam pelayanan kemasyarakatan akan terus dikembangkan,” ungkap Agustinus Ruben secara langsung terkait latar belakang program ini.
Namun, di balik melimpahnya dukungan politik dan kelembagaan, dari beberapa sumber diperoleh informasi sekaligus menjadi ujian sesungguhnya bagi IAKN Toraja adalah menaklukkan regulasi baku yang ditetapkan oleh Kemendikbudristek, Kemenkes, dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Untuk mendapatkan lampu hijau, IAKN Toraja wajib memenuhi standar kelayakan berlapis.
Institusi IAKN Toraja diharuskan memiliki minimal 26 dosen tetap yang terdiri dari dokter spesialis dan magister biomedik, serta membangun laboratorium spesifik seperti Anatomi, Fisiologi, hingga ruang keterampilan klinis (Skill Lab).
Keberadaan infrastruktur ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, guna menjamin kompetensi lulusan dokter yang dihasilkan nantinya tidak kalah saing di tingkat nasional.
Agar program ini benar-benar terwujud dan tidak sekadar menjadi wacana, IAKN Toraja menempuh strategi integrasi ekosistem. Kunci utama perwujudan fakultas ini terletak pada transformasi RS Elim Rantepao menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama.
Melalui YKGT, fasilitas, sarana diagnostik, dan dokter spesialis yang ada di rumah sakit tersebut akan langsung disinergikan sebagai wahana praktik klinik mahasiswa.
Rektor Agustinus Ruben menambahkan bahwa fokus utama dari kerja sama ini memang diarahkan untuk mendorong pengembangan Rumah Sakit Elim Rantepao agar dapat menjadi rumah sakit pendidikan utama yang mampu mendukung kualitas dan keandalan praktik mahasiswa kedokteran.
Melalui kombinasi sokongan birokrasi Kementerian Agama, kesiapan rumah sakit mitra, serta percepatan penyusunan borang akreditasi minimum, IAKN Toraja optimistis mampu mengubah tantangan kelayakan medis ini menjadi sebuah realisasi nyata demi kemajuan pemenuhan tenaga kesehatan di wilayah Toraja dan sekitarnya.
( */ fred )













