iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta

Paskah Seru Jemaat Mebali: Dari Arung Jeram hingga Sukacita Lintas Generasi di To’ Barana




Bagikan:

MEDIANTANEWS.COM

RANTEPAO – Ada yang berbeda dengan perayaan Paskah Jemaat Mebali, Klasis Sillanan tahun ini. Alih-alih menggelar prosesi formal di dalam gedung gereja, mereka justru memilih menyatu dengan alam.




Kawasan wisata bantaran sungai (side rivers area) Sa’dan dan To’ Barana disulap menjadi panggung sukacita iman dalam balutan wisata rohani, Rabu (27/5/2026).
Sejak pagi, kawasan wisata legendaris ini mendadak riuh.

Gelak tawa dan riak air sungai berpadu menjadi melodi kebersamaan. Mulai dari anak-anak hingga lansia melebur tanpa sekat. Tidak ada jarak, yang ada hanya luapan kebahagiaan lintas generasi.

Rangkaian acara dikemas apik. Mulai dari ibadah bersama, puji-pujian yang bergema di sela gemercik air, aneka games seru, hingga ditutup dengan tradisi jamuan kasih (makan bersama).
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah petualangan adrenalinnya.

Keindahan panorama Sa’dan dan To’ Barana kian sempurna saat warga jemaat beramai-ramai menjajal keseruan boating—berperahu karet ala arung jeram—yang menjadi magnet utama objek wisata tersebut.

Ibadah Dialogis yang Membumi
Pendeta Jemaat Mebali, Pdt. Marten Sassan, M.Th, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi terbuka ini sengaja dilakukan untuk menyajikan konsep ibadah yang menyegarkan tanpa kehilangan kesakralannya.

“Kemasan ibadahnya kita buat dialogis dan lebih santai. Melalui tema ‘Aku Melihat Tuhan’, kita ingin pemahaman tentang makna kebangkitan Yesus bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, kapan pun dan di mana pun,” ungkap Pdt. Marten.

Pdt Marthen menambahkan, konsep wisata rohani ini menjadi jembatan efektif untuk menyatukan seluruh generasi jemaat agar bisa bersukacita bersama. “Kita berwisata, tetapi esensi iman dari perayaan Paskah sama sekali tidak boleh terlewatkan,” tegasnya.

Magnet bagi para diaspora,
Kkseruan Paskah kali ini terasa kian spesial berkat kehadiran para diaspora—keluarga anggota Jemaat Mebali yang sedang pulang kampung dari tanah perantauan.

Massang Matius, MM, salah satu diaspora jemaat Mebali asal Papua Barat, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya atas inovasi pelayanan di kampung halamannya.

“Jujur, saya bangga dan kagum. Pelayanan jemaat sekarang makin kreatif dan dikemas dengan berbagai konsep modern. Paskah kali ini membuat kami yang dari perantauan merasa sangat berbahagia bisa ikut terlibat langsung,” tutur Massang penuh haru.

Paskah di To’ Barana hari itu bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang rindu yang tuntas, di mana iman, alam, dan persaudaraan mengalir hangat sedalam aliran Sungai Sa’dan.

(* / Fred )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses