Editorial dan Refleksi Jurnalis, Menimang Makna Paskah dalam Denyut Budaya Toraja


Bagikan:

Oleh: Redaksi MEDIANTANEWS

TANA TORAJA – Ketika fajar menyingsing di balik tebing-tebing karst yang kokoh, suara lonceng gereja bersahutan dengan kokok ayam, menandai tibanya hari kemenangan.

Di Bumi Lakipadada, perayaan Paskah bukan sekadar peringatan teologis tentang kubur yang kosong, melainkan sebuah simfoni yang memadukan iman Kristiani dengan kedalaman nilai luhur budaya Toraja.

Dalam kosmologi masyarakat Toraja, kehidupan adalah siklus yang sangat dihormati. Jika Rambu Solo’ adalah bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang berpulang, maka Paskah hadir sebagai Rambu Tuka’ (sukacita) yang paling agung. Kebangkitan Kristus dirasakan sebagai perayaan kehidupan baru yang menyatu dengan semangat Mesa Lanna, Mesa Lanni—sebuah filosofi kebersamaan dalam suka maupun duka.

“Paskah di Toraja memiliki rasa yang unik. Ada kerinduan untuk ‘pulang’ ke akar iman dan budaya secara bersamaan,” ujar seorang tetua dan adat di wilayah Makale yang enggan namanya dimediakan.

Sepanjang Pekan Suci, nuansa Toraja kental terasa. Di beberapa jemaat, dekorasi gereja tidak lagi hanya menggunakan bunga lili putih, tetapi dipadukan dengan ukiran Pa’ssura’ yang memiliki makna filosofis mendalam. Motif Pa’bare Allo (matahari), misalnya, sering disandingkan dengan simbol Kristus sebagai “Terang Dunia” yang mengalahkan kegelapan maut.

Prosesi jalan salib yang dilakukan oleh pemuda-pemudi gereja seringkali melewati pemukiman Tongkonan. Pemandangan ini menciptakan kontras yang indah: sebuah iman yang lahir di Yerusalem, namun tumbuh subur dan berakar di atas tanah leluhur Toraja. Ibadah Paskah Subuh (Easter Sunrise Service) menjadi puncak di mana jemaat berkumpul, seringkali mengenakan busana adat yang bersahaja, menegaskan bahwa identitas sebagai orang Toraja dan orang beriman adalah satu kesatuan yang utuh.

Perspektif jurnalistik melihat bahwa Paskah di Toraja juga menjadi mesin penggerak solidaritas sosial. Tradisi makan bersama setelah ibadah—mirip dengan konsep Saroan atau kerja sama komunitas—mempererat tali silaturahmi. Tidak jarang, tetangga yang berbeda keyakinan pun ikut merasakan suasana sukacita ini dalam bingkai toleransi yang sudah mendarah daging di Toraja.

Bagi para perantau yang menyempatkan pulang kampung (mudik Paskah), momen ini adalah ajang rekonsiliasi. Paskah menjadi pengingat bahwa sekeras apa pun batu tebing bukit hati manusia harus lembut dan terbuka bagi pengampunan, sebagaimana Kristus yang mengampuni di atas kayu salib.

Sebuah catatan ‘ headline ‘ refleksi jurnalistik untuk menggalang kebangkitan dan pemulihan masa depan. Isinya berharap makna dalam mempertahankan marwah Toraja dalam berbagai kancah.

Bahwa ditengah arus modernisasi dan pariwisata, serta suryh multi hidup lainnya yang kian pesat, Paskah dengan basis kearifan lokal ini menjadi benteng pertahanan karakter. MEDIANTANEWS melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa agama tidak harus menghapus budaya, melainkan menyempurnakannya.

Kebangkitan yang dirayakan hari ini adalah panggilan bagi setiap insan Toraja untuk bangkit dari keterpurukan, menjaga kelestarian alam ciptaan-Nya (termasuk hutan dan sumber air Toraja), serta terus merawat Kada Mesak, Pantan Kundun (satu kata, satu perbuatan).

Selamat Paskah. Kiranya damai sejahtera dari kubur yang kosong senantiasa memberkati seluruh pelosok Tana Toraja, dari Mebali Gandang Batu Sillanann Saluputti hingga Mengkendek, dari Sangalla hingga Bittuang, Makale , Banggakaradeng, Simbuang hingga pelosok Mappak dan semua wilayah Tondok Lepongan Bulan Tana Matatarik Allo.

Ikuti terus ulasan mendalam mengenai dinamika sosial dan budaya hanya di MEDIANTANEWS. Menjangkau yang Tak Terjangkau, Menyuarakan yang Tak Terdengar.

( News Room MEDIANTANEWS.COM )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses