EDITORIAL MEDIANTANEWS
SOROT REDAKSI. — Ruang sidang komisi boleh saja memanas oleh adu argumen dan perbedaan pandangan. Namun, begitu palu sidang istirahat diketuk, semua ketegangan itu seketika luruh dan melebur dalam satu ruang tunggu yang sama.
Di sela-sela perhelatan Sidang Sinode Am (SSA) ke-26 Gereja Toraja di Palopo, demam Piala Dunia terbukti ampuh menjadi perekat sosial yang mencairkan sekat-sekat perbedaan di antara para peserta.
Menarik melihat bagaimana tensi tinggi perdebatan organisasi langsung mendingin begitu topik beralih ke si kulit bundar. Tidak ada lagi sekat antara utusan maupun undangan; semua membaur, tertawa, dan saling melempar kelakar hangat saat membedah peluang tim jagoan masing-masing di babak semifinal.
Duel klasik Argentina kontra Inggris serta laga sengit Prancis versus Spanyol mendadak jadi menu obrolan wajib yang jauh lebih memikat dibanding draf materi sidang.
Inilah potret humanis yang mahal dari arena SSA.
Sepak bola, dengan daya magisnya, hadir sebagai penawar lelah sekaligus perekat kebersamaan. Ia mengingatkan semua orang di ruangan itu bahwa di luar urusan struktural yang kaku, mereka adalah saudara yang dipersatukan oleh kegembiraan yang sama.
Bahkan, atmosfer santai ini turut menjangkiti sang Ketua Umum Demisioner BPS Gereja Toraja, Pdt. Dr. Alfred Anggui. Tokoh kunci yang kembali dijagokan memimpin untuk periode 2026–2031 ini tidak canggung ikut larut dalam keseruan tersebut. Sambil bersenda gurau, ia mengisahkan nasib sial tim kesayangannya.
“Sebenarnya saya pendukung Belanda. Tapi karena sudah dikanvaskan Maroko dan pulang duluan, sekarang saya jagokan Inggris,” ujarnya santai, diiringi senyum lebar.
Sentilan dari sudut-sudut ruang istirahat ini menjadi bukti nyata: seserius apa pun agenda yang dibahas di atas meja sidang, kehangatan persaudaraan dan segelas kopi sambil membicarakan bola selalu punya cara terbaik untuk menjaga kewarasan dan merawat kedamaian di arena persidangan.
( redaksi )













