EDITORIAL MEDIANTANEWS
Kata Masero dalam bahasa Toraja bermakna mendalam: bersih. Ketika Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menggaungkan semangat MASERO (Maju, Mandiri, Aman, Sehat, Ekologis, Religius, dan Optimis), publik disuguhkan fondasi moral yang melampaui slogan—bersih lingkungan (masero tiku lao), bersih hati (masero pa’inan), dan bersih pikiran (masero tang’nga).
Kini, pengaruh kuat dari roh Masero tersebut berhasil mengantarkan Kabupaten Tana Toraja masuk dalam radar penilaian piala Adipura. Masuknya daerah ini ke panggung nominasi menjadi pemantik semangat kolektif, sekaligus panggilan ujian yang nyata.
Keputusan memasukkan Tana Toraja dalam radar Adipura bukan sekadar apresiasi atas aksi sapu jalanan di pusat kota Makale. Adipura modern menuntut penilaian utuh atas tata kelola lingkungan dari hulu ke hilir. Di sinilah letak tantangannya: sejauh mana roh Masero mampu menggerakkan kebiasaan warga secara massal dan mentransformasi infrastruktur pengelolaan sampah daerah secara mendasar.
Sebagai destinasi wisata skala internasional, kebersihan Tana Toraja adalah marwah daerah. Wisatawan tidak hanya datang menikmati keindahan arsitektur Tongkonan atau keagungan situs budaya, tetapi juga mencari kenyamanan alam pegunungan yang asri dan bebas dari sampah plastik.
Budaya memilah sampah dari tingkat rumah tangga, penguatan bank sampah di wilayah lembang (desa) dan kecamatan, serta penghentian kebiasaan membuang sampah ke sungai menjadi indikator mutlak apakah kesadaran lingkungan telah membumi.
Namun, titik krusial yang menentukan keberhasilan Tana Toraja menembus kriteria akhir Adipura berada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Praktik pembuangan terbuka (open dumping) kini menjadi “kartu merah” dalam penilaian Adipura. TPA di Tana Toraja harus bertransformasi secara teknis menuju sistem controlled landfill atau sanitary landfill.
Penanganan air lindi agar tidak mencemari tanah dan sumber air warga, pengelolaan gas metana, serta pemilahan sampah bernilai ekonomis adalah syarat teknis yang tak bisa ditawar.
Roh Masero telah berhasil menyalakan api pemantik hingga Tana Toraja diperhitungkan dalam peta persaingan Adipura.
Menjaga kebersihan lingkungan pada dasarnya adalah bentuk penghormatan terhadap tanah leluhur Lepoongan Bulan Matari Allo. Tugas pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan seluruh elemen masyarakat kini adalah memastikan penilaian Adipura ini bukan sekadar ajang berburu piala demi gengsi birokrasi, melainkan batu pijakan untuk mewujudkan Tana Toraja yang benar-benar bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Semoga mimpi adipura terwujud
( redaksi )













