MEDIANTANEWS
PALOPO, — Di sela-sela dinamika pelaksanaan Sidang Sinode Am (SSA) XXVI Gereja Toraja yang berlangsung khidmat di Tana Luwu, Palopo, jurnalis MEDIANTANEWS berkesempatan mewancarai Lusia Palulungan, S.H., M.Hum via Whatshapp, Senin 12 Juni 2026
Lusia merupakan seorang aktivis perempuan senior, mantan Anggota Komisi Perlindungan Anak Gereja Toraja, serta sosok yang dikenal sangat vokal dan konsisten dalam memperjuangkan isu gender, perlindungan anak, dan sosial inklusi. Berikut adalah petikan wawancara mendalam bersamanya mengenai visi besar, arah gerakan, dan masa depan Gereja Toraja:
MEDIANTANEWS: Seperti apa Anda melihat momentum Sidang Sinode Am (SSA) Gereja Toraja ke-26 ini?
Lusia Palulungan: Hari ini, di bawah payung Sidang Sinode XXVI Gereja Toraja di Tanah Luwu Palopo, kita tidak hanya berkumpul untuk mengevaluasi program rutin lima tahunan. Kita berada di sini untuk menentukan arah strategis yang krusial: Ke mana Gereja Toraja akan melangkah di masa depan? Ini adalah momen refleksi sekaligus transformasi yang sangat menentukan bagi eksistensi jemaat kita.
MEDIANTANEWS: Sebagai seorang aktivis perempuan yang bergerak dalam berbagai program dan isu inklusi, apa yang Anda harapkan dari forum tertinggi ini?
Lusia Palulungan: Dalam terang tema “Teguh dalam Kebenaran, Bertumbuh dalam Kasih” (Efesus 4:15), saya membawa sebuah visi gerakan yang konkret. Sebuah visi kepemimpinan perempuan yang tidak hanya sekadar mengelola administrasi organisasi, tetapi mampu memulihkan kehidupan jemaat dari akar terdalamnya. Ini adalah komitmen kampanye kita bersama: Ketahanan Keluarga dan Inklusivitas Radikal!
MEDIANTANEWS: Apa yang akan menjadi titik awal dari gerakan visi yang Anda maksudkan tersebut?
Lusia Palulungan: Perubahan harus selalu dimulai dari rumah melalui Kampanye Ketahanan Keluarga. Mari kita jujur pada realitas objektif yang terjadi saat ini. Jemaat kita tidak akan pernah bisa menjadi kuat jika fondasi terkecilnya, yaitu keluarga, rapuh. Keluarga-keluarga kita hari ini sedang digempur habis-habisan oleh krisis ekonomi yang menghimpit, keretakan relasi antar-anggota keluarga, serta tantangan destruktif dari zaman digital yang ironisnya sering kali menjauhkan mereka yang dekat.
MEDIANTANEWS: Lalu, bagaimana bentuk gerakan aksi yang nyata dan harus dilakukan menurut pandangan Anda?
Lusia Palulungan: Kita harus berani menggeser fokus pelayanan gerejawi; dari yang selama ini cenderung bersifat seremonial dan prosedural, menuju pendampingan pastoral domestik yang nyata dan menyentuh akar rumput. Kepemimpinan perempuan membawa perspektif rahim atau compassion (belas kasih)—sebuah pendekatan yang merangkul, mendengarkan, dan memulihkan keluarga-keluarga yang terluka, bukan malah menghakimi mereka atas kerapuhan yang dialami.
MEDIANTANEWS: Tentu sebuah gerakan memiliki target yang ingin dicapai. Seperti apa target dari visi ini?
Lusia Palulungan: Target kita sangat jelas dan terukur: Membawa Gereja hadir secara nyata di setiap meja makan jemaat, memperkuat fondasi ekonomi domestik, dan membentengi generasi muda kita dengan kebenaran firman yang hidup. Ketika keluarga-keluarga di dalam jemaat tangguh, maka Gereja Toraja secara keseluruhan tidak akan pernah goyah oleh hantaman arus zaman yang bergejolak.
MEDIANTANEWS: Aksi dan target tentu membutuhkan tahap sosialisasi atau kampanye. Kira-kira seperti apa polanya?
Lusia Palulungan: Buka pintu dan robohkan sekat melalui Kampanye Inklusivitas Total! Gereja yang benar-benar bertumbuh dalam kasih adalah gereja yang berani meluaskan kemahnya. Kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi “menara gading” yang eksklusif dan menjauh dari realitas sosial. Kepemimpinan masa depan Gereja Toraja harus memastikan bahwa tidak ada satu pun warga jemaat yang tertinggal, terabaikan, atau dipinggirkan dari pelayanan.
MEDIANTANEWS: Terkait visi aksi inklusivitas tersebut, fokus utamanya tertuju pada hal apa saja?
Lusia Palulungan: Fokus utama kita adalah Merangkul Kaum Rentan. Kita harus memastikan bahwa sistem sinodal kita memberikan ruang aman yang protektif, hak suara yang setara, serta perlindungan nyata bagi kaum perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok disabilitas. Mereka semua adalah bagian utuh dari tubuh Kristus yang harus dihormati martabatnya.
MEDIANTANEWS: Mengenai keadilan gender dalam konteks kepemimpinan Gereja Toraja, bagaimana pandangan Anda?
Lusia Palulungan: Kita harus menghargai kepelbagaian karunia karismatik yang dianugerahkan Tuhan tanpa boleh dibatasi oleh sekat-sekat budaya patriarki yang kaku. Kita perlu mengubah wajah gereja menjadi Oikos—sebuah rumah bersama yang hangat dan ramah, di mana setiap orang tidak hanya dipersilakan datang sebagai tamu, tetapi diakui, dihargai, dan ditempatkan sebagai bagian utuh yang tidak terpisahkan dari tubuh Kristus.
MEDIANTANEWS: Untuk Gereja Toraja ke depan, apa langkah segera yang paling mendesak untuk dilakukan terkait visi besar ini?
Lusia Palulungan: Ini adalah sebuah Panggilan untuk Bertindak (Call to Action). Saudara-saudari sekalian, pimpinan dan utusan sidang yang terkasih. Visi yang saya sampaikan ini bukan sekadar retorika atau janji manis di atas kertas. Ini adalah sebuah cetak biru (blueprint) gerakan oikumenis yang menghubungkan spiritualitas global dengan realitas lokal kita yang konkret di jemaat-jemaat dalam wilayah pelayanan Gereja Toraja. Langkah strategis ini harus segera diintegrasikan ke dalam kebijakan sinodal kita.
MEDIANTANEWS: Terakhir, apa harapan terbesar dan ajakan Anda kepada seluruh warga gereja setelah selesainya SSA-GT ke-26 ini?
Lusia Palulungan: Saya mengajak kita semua dengan penuh kasih: Mari kita tinggalkan cara-cara lama yang kaku, birokratis, dan tidak kontekstual. Mari kita bahu-membahu membangun Gereja Toraja yang responsiv terhadap zaman, inklusif terhadap sesama, dan berdampak nyata bagi transformasi sosial di tengah masyarakat. Pilihlah kepemimpinan yang mendengarkan dengan hati, bertindak dengan keberanian iman, dan menenun masa depan dengan kasih yang tulus. Teguh dalam Kebenaran, Bertumbuh dalam Kasih, Bersama Kita Wujudkan Gereja Toraja yang Tangguh dan Inklusif! Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati perjuangan kita bersama. Amin!
( * / fred )













