MEDIANTANEWS
MAKALE – Menjelang Sidang Sinode Am (SSA) Ke 26 Gereja Toraja yang akan dipusatkan di Kota Palopo, suasana kekeluargaan dan semangat pengabdian mulai terasa kental.
Bukan sekadar suksesi kepemimpinan dan konsolidasi program , momentum ini menjadi ajang bagi para pelayan Tuhan untuk menyatakan kesiapan dalam memajukan organisasi gereja melalui talenta masing-masing.
Salah satu dinamika yang paling menarik perhatian adalah bursa Sekretaris Umum (Sekum). Nama Pdt. Okywenty Kombong, M.Th., kini mulai banyak diperbincangkan.
Sosok yang pernah menjabat sebagai Sekretaris BPSW III Makale ini dikenal memiliki rekam jejak yang solid dan kedekatan emosional yang baik, baik di internal jemaat maupun di kalangan eksternal.
Menanggapi namanya yang mulai “dielus” bersaing dengan petahana Pdt. Dr. Christian Tanduk, Pdt. Oky memberikan pernyataan yang sangat menyentuh sisi humanis seorang pelayan. Meski memang Pdt Cristian hari masih sanfgat dijagokan figur kuat yang vakal oppo kembali selaku Sekum periode selanjutnya.
“Bagi saya, jabatan itu adalah pelayanan dan panggilan. Kalau memang itu dibutuhkan dan diperlukan, bagi saya itu hal yang tak mungkin akan saya tolak,” tuturnya dengan nada rendah hati.
Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi para figur yang muncul, posisi di jajaran pimpinan bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk memperluas jangkauan pelayanan.
Selain posisi Sekum dan wasekum, beberapa nama juga mencuat untuk mengisi lima posisi Ketua Bidang. Pdt. Daud Palelingan dan Pdt. Saniati Padda menjadi dua figur yang terus dijagokan.
Dukungan terhadap mereka mengalir karena dinilai memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi selama bertugas di ladang pelayanan masing-masing.
Di sisi lain, posisi Ketua Umum yang saat ini diduduki Pdt. Alfred Anggui dinilai masih sangat stabil. Dukungan luas dari berbagai klasis menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau masih sangat diharapkan untuk berlanjut, membawa keteduhan di tengah dinamika pemilihan posisi lainnya.
SSA di Palopo kali ini diprediksi akan berlangsung seru namun tetap dalam bingkai kasih, di mana setiap figur yang muncul membawa satu semangat yang sama, memberi hati untuk melayani Gereja Toraja.
(* / fred )











