LAPORAN: WARTAWAN MEDIANTANEWS
PALOPO,
MEDIANTANEWS – Atmosfer Sidang Sinode Am (SSA) ke-26 Gereja Toraja yang berlangsung di Palopo (9–14 Juli 2026) akhirnya mencapai puncaknya. Di tengah ketatnya tensi persidangan dan dinamika forum yang luar biasa, satu figur tampil begitu tangguh dan tak terbendung: Pdt. Dr. Alfred Anggui.
Melalui proses yang memperlihatkan kuatnya dukungan arus bawah, Pdt. Alfred Anggui secara resmi terpilih kembali untuk menakhodai Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja periode 2026–2031. Keterpilihannya yang begitu dominan di lokasi sidang menjadi bukti sahih bahwa kepemimpinannya dinilai sangat berhasil dan masih sangat dibutuhkan oleh warga jemaat.
Di sela-sela riuhnya ucapan selamat di lokasi SSA, ada satu hal unik yang kembali hangat diperbincangkan—sebuah detail sederhana namun sarat makna filosofis yang melekat pada sosok sang ketua terpilih.
Jika Anda menyimpan nomor WhatsApp Pdt. Dr. Alfred Anggui, ada satu hal yang mencolok: foto profilnya.
Ia tidak memasang potret diri, melainkan logo kepala singa yang gagah dengan tulisan tegas, “Lion of Judah”(Singa dari Yehuda).
“Dari dulu semenjak saya menyimpan nomor beliau, saya dibuat penasaran. Apa arti dan maknanya, kenapa bukan foto dirinya yang dipasang?” ujar salah seorang penanggung jawab newsroom media ini yang melakukan liputan langsung di arena SSA Palopo.
Bagi warga jemaat dan para utusan sidang yang mengamati sepak terjang sang pendeta, logo itu bukan sekadar gambar biasa. Lion of Judah adalah representasi utuh dari karakter kepemimpinan Alfred Anggui: kuat, berani, tangguh, dan teguh pada prinsip.
Ketangguhan Pdt. Alfred Anggui dalam memimpin teruji lewat berbagai terobosan penting pada periode sebelumnya. Di bawah arahannya, BPS Gereja Toraja bertransformasi menjadi lembaga yang adaptif melalui pendekatan yang out of the box.
Pelayanan pendidikan, kesehatan, tata kelola keuangan, hingga harmonisasi aset di semua lini unit binaan dibenahi secara progresif.
Keberhasilan nyata inilah yang menjadi modal sosiologis dan teologis yang luar biasa kuat di arena SSA Palopo. Sejak awal persidangan, riak dukungan untuk Pdt. Alfred sudah begitu solid.
Keterpilihannya kembali untuk periode 2026–2031 disambut gegap gempita, menegaskan statusnya sebagai pemimpin yang mendapat legitimasi penuh dari jemaat demi merampungkan agenda-agenda besar gereja ke depan.
Singa yang Mengaum Melawan Penyakit Sosial
Filosofi simbol Lion Of Judah jadi kekuatan dan kepemimpinan yang tak gentar—tercermin nyata dari keberanian Alfred Anggui “turun mimbar” untuk berdiri di garis depan melawan berbagai penyakit sosial di tengah masyarakat.
Sang pendeta dikenal sangat vokal dan berani menantang arus demi menyelamatkan mentalitas generasi muda di Bumi Lakipadada. Mulai dari praktik judi tedong silaga (adu kerbau), sabung ayam, hingga penyakit sosial lainnya yang sempat terasa “mendarah daging”, ditentangnya secara tegas dengan menggerakkan kekuatan moral gereja.
“Kita tidak bisa membiarkan masa depan anak-anak kita hancur karena praktik-praktik yang merusak mental dan ekonomi ini,” ujar salah seorang warga jemaat yang hadir di lokasi SSA, menyatakan kekagumannya atas ketegasan sang pendeta yang baru saja terpilih kembali tersebut.
Bagi para peserta sidang dan jemaat yang hadir di Palopo, ketangguhan Alfred dalam menginisiasi gerakan moral ini bukan sekadar urusan ritual agama, melainkan upaya konkret menyelamatkan peradaban dan identitas asli orang Toraja yang luhur.
Langkah berani keluar dari zona nyaman ini menahbiskan dirinya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Toraja saat ini. Publik melihat ada energi kepemimpinan yang sangat kuat dalam dirinya—energi “Singa dari Yehuda” yang siap mengaum keras demi kebenaran, keadilan, dan masa depan generasi yang bersih.
Dengan terpilihnya kembali Pdt. Dr. Alfred Anggui sebagai Ketua Umum BPS Gereja Toraja periode 2026–2031, bahtera Gereja Toraja dipastikan akan terus melaju kencang di bawah kawalan pemimpin yang tangguh, visioner, dan dicintai jemaatnya.
( redaksi )













