MEDIANTANEWS.COM
MAKALE — Suasana duka menyelimuti Tongkonan Parappo, Malimbong Balepe, tempat jenazah almarhum Ir. Nikodemus Biringkanae disemayamkan. Suasana kian sarat makna ketika dua kepala daerah yang juga figur sentral Persekutuan Kaum Bapa (PKB) Gereja Toraja hadir secara bersamaan untuk memberikan penghormatan terakhir, Rabu (12/8/2026) siang.
Kedua pemimpin tersebut adalah Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong—yang saat ini menjabat Ketua Umum PKB Gereja Toraja—serta Bupati Mamasa Welem Sambolangi, mantan Ketua PKB Gereja Toraja selama dua periode.
Frederik hadir didampingi sang istri, Damayanti Batti, beserta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sementara Welem melangkah ke rumah duka didampingi istrinya, Adel Palulun, bersama jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Mamasa.
Kehadiran dua bupati berlatar belakang kepemimpinan organisasi gerejawi ini bukan sekadar pemenuhan protokol kepemerintahan, melainkan bentuk penghormatan mendalam kepada almarhum Niko Biringkanae—Bupati Tana Toraja periode 2016–2021—yang mereka pandang sebagai senior, mentor, sekaligus pamong teladan.
Bagi Frederik dan Welem, almarhum merupakan sosok pemimpin berkarakter kuat yang kaya akan ide-ide inovatif, dekat dengan rakyat, serta memahami betul akar kebudayaan lokal. Rekam jejak kepemimpinan almarhum yang matang terbentuk dari proses panjang sejak aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) hingga Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT).
“Kami sungguh kehilangan sosok pemimpin berkarakter. Selain sebagai ikatan kekeluargaan, kedatangan kami bersama rombongan adalah ungkapan duka cita mendalam sekaligus wujud penghormatan atas seluruh dedikasi almarhum bagi daerah, bangsa, dan gereja,” ujar Frederik dengan nada haru di persemayaman Tongkonan Parappo.
Senada dengan Frederik, Bupati Mamasa Welem Sambolangi mengenang perjalanan panjang kebersamaannya dengan almarhum. Saat almarhum Niko Biringkanae menjabat sebagai Bupati Tana Toraja, Welem mengemban amanah sebagai Ketua DPRD Tana Toraja. Hubungan kemitraan dan kekeluargaan yang terbangun di antara keduanya telah teruji waktu.
“Banyak teladan yang dapat kita petik dari kepemimpinan, gagasan, dan keteguhan sikap almarhum. Kami semua merasa sangat kehilangan. Sebagai adik, keluarga, dan sahabat dalam tugas, izinkan saya menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi penghiburan dan kekuatan dari Tuhan,” kata Welem.
Kehadiran dua pemimpin di Tongkonan Parappo sore itu menyimbolkan penghormatan lintas generasi, menegaskan kembali warisan kepemimpinan dan keteladanan yang ditinggalkan almarhum Niko Biringkanae bagi masyarakat Toraja dan sekitarnya.
( rsd / fred )













