MEDIANTANEWS
RANTEPAO ,— Pengutusan pengurus Lembaga Pelayanan Gereja Toraja (LPG) Periode 2026–2031 berlangsung khidmat di Gereja Toraja Jemaat Sa’dan, Klasis Sa’dan, Minggu (9/8/2026).
Struktur kabinet yang dibentuk oleh Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja ini menaungi berbagai komisi, badan, yayasan, hingga badan usaha milik gereja. Menariknya, jajaran kepengurusan tak hanya diisi oleh kalangan pendeta, tetapi juga merangkul tokoh multipihak dari bermacam latar belakang.
Mulai dari profesional, akademisi, hingga anggota DPRD turut dilibatkan. Komposisi ini juga mencerminkan inklusivitas yang merangkul lintas generasi serta keterwakilan gender.
Ibadah dan prosesi pengurapan dipimpin langsung oleh Ketua Umum BPS Gereja Toraja, Pdt. Alfred Anggui, serta dihadiri jajaran Badan Verifikasi Gereja Toraja (BVGT), Majelis Pertimbangan Gereja Toraja (MPGT), dan tamu undangan lainnya.
“Ini momentum yang baik pasca-SSA (Sidang Sinode Am) untuk mempersiapkan diri bekerja dan diutus. Yang kita harapkan adalah kesetiaan kepada Tuhan. Mari jalani pelayanan ini dengan memberikan hati yang penuh untuk seluruh proses ke depan,” ujar Pdt. Alfred dalam pesannya.
Surat Keputusan (SK) penetapan perangkat pelayan dan mitra strategis—terdiri dari komisi, biro, institut, yayasan, perseroan, hingga badan khusus—dibacakan oleh Sekretaris Umum BPS Gereja Toraja.
Pdt. Alfred menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesediaan para tokoh untuk mengambil bagian dalam struktur LPG. Ia mengingatkan bahwa dinamika tantangan dan perubahan zaman menuntut kerja keras serta semangat kebersamaan.
Beberapa fokus strategis yang menjadi perhatian utama kepengurusan periode ini selain pertumbuhan iman dan pemayanan gerejawi juga antara lain percepatan peningkatan akreditasi Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja, penguatan pelayanan kesehatan di rumah sakit gereja, serta dukungan jaringan kemitraan strategis seperti RS Primanaya, UPH, dan Sekolah Pelita Harapan.
“Semangat kolaborasi itu penting, mari kita jalan bersama. Jangan ada kegiatan atau program yang berjalan sendiri-sendiri,” tegas Pdt. Alfred.
Ia berharap seluruh unit usaha milik gereja dapat makin diberdayakan. Komunikasi dan koordinasi di semua lini pelayanan juga harus terus dipelihara sebagai pengikat kerja pelayanan bersama.
( * /fred )













