MEDIANTANEWS
MAMASA, – Kabupaten Mamasa bersolek. Senin 6 April 2026 Lapangan Kondosapata riuh rendah oleh tabuhan musik tradisional dan parade warna-warni kain tenun. Berikut ulasan kegiatan tersebut yang dirangkum dari berbagai sumber .
Frederich Suselisu : Pimpred MEDIANTANEW.COM
Inilah momentum Bulan Mamase, sebuah perhelatan akbar tahun ini, perdana dibuat bukan berarti sekadar seremonial, melainkan panggung besar untuk menegaskan kembali jati diri masyarakat bumi Kondosapata, pegunungan Sulawesi Barat kepada dunia.

Acara yang dibuka langsung oleh Gubernur Sulawesi Barat, H. Suhardi Duka, diawali dengan Karnaval Budaya yang spektakuler. Sebanyak 17 kecamatan tumpah ruah ke jalan, membawa kekayaan tradisi masing-masing dari garis start di Kantor DPRD hingga finish di pusat keramaian Lapangan Kondosapata.
Dalam sambutannya, Gubernur Suhardi Duka memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi spirit Bulan Mamase. Ia menyoroti bagaimana masyarakat Mamasa tetap teguh mengenakan Sambuk (pakaian adat khas) di tengah gempuran tren mode global.
“Saya salut dengan Mamasa yang selalu bangga dengan budayanya. Sambuk Mamasa memiliki keunikan luar biasa dan terus dipakai di saat orang luar lebih memilih jas mewah. Inilah jati diri daerah; identitas yang membuat kita dikenal luas,” tegas Gubernur.
Baginya, Bulan Mamase adalah bukti bahwa budaya adalah aset paling berharga yang dimiliki Sulawesi Barat. Oleh karena itu, ia menjanjikan bahwa mulai tahun depan, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata akan menjadikan Bulan Mamase sebagai program prioritas pariwisata provinsi untuk menarik arus wisatawan mancanegara maupun domestik.

Tak sekedar jadi perayaan ini sekaligus jadi magnet diaspora dan kebangkitan UMKM. Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, menjelaskan bahwa esensi dari Bulan Mamase adalah penguatan ekonomi kerakyatan melalui pariwisata yang inklusif. Event ini sengaja digelar bertepatan dengan momentum pulangnya para diaspora Mamasa dari berbagai penjuru Nusantara.
“Target kami jelas: perkenalan budaya, pameran hasil UMKM, dan menjadi wadah silaturahmi bagi diaspora. Masukan dan sumbangsih pemikiran mereka yang sedang pulang kampung sangat kami perlukan untuk pembangunan Mamasa yang lebih baik,” ujar Bupati Welem.
Tak hanya parade budaya, Bulan Mamase juga menjadi ajang promosi komoditas unggulan. Gubernur mendorong agar produk seperti Kopi Mamasa melahirkan brand lokal yang kuat. Selain itu, potensi budidaya nanas dan markisa yang tengah naik daun juga didorong untuk menjadi prioritas pengembangan ekonomi masa depan.
Meski diakui bahwa pemerintah daerah saat ini tengah menghadapi tantangan efisiensi anggaran dari pusat, pelaksanaan Bulan Mamase tetap berjalan megah berkat kolaborasi erat dengan Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) serta berbagai komunitas lokal. Pun dengan organisasi diaspora Mamasa , Perhimpunan Masyarakat Mamasa indonesia.
Parade sepanjang dua kilometer yang menampilkan ragam musik tradisional dan permainan rakyat ini membuktikan satu hal: semangat menjaga warisan leluhur di Bumi Kondosapata tak pernah luntur oleh keterbatasan finansial. Bulan Mamase telah sukses menjadi mercusuar harapan bagi pariwisata Sulawesi Barat yang lebih inklusif dan mendunia.
( Redaksi )













