MEDIANTANEWS
MEBALI ,- Riuh rendah suara sahutan lesung dalam tradisi, dan aroma khas pelataran Tongkonan menyeruak di antara kabut tipis yang menyelimuti Tongkonan Rantepao Doan Mebali.
Selama tiga hari berturut-turut, keheningan desa terusik oleh sebuah ritual kolosal yang kian jarang disaksikan di era modern: Ma‘ Bua’Kale.
Bukan sekadar pesta adat, perhelatan besar ini adalah sebuah monumen hidup dari rasa syukur yang meluap. Di tengah pusaran sakralnya tradisi, berdiri sosok Pendeta (Pdt.) CU Turupadang bersama keluarga besarnya. Menatap penuh takjub pada bentangan berkat yang telah mereka lalui selama lebih dari setengah abad.
Setengah abad menenun kasih , kisah ini sejatinya bermula dari sebuah janji suci di altar gereja. Tepat pada tanggal 15 Mei 1974, di bawah naungan Gereja Bethel Tabernakel Sungai Limboto Makassar, Pdt. C.U Turupadang dan sang istri mengikat janji setia. Saat itu, masa depan masih berupa lembaran kosong yang misterius.
Namun, waktu membuktikan bahwa kesetiaan pada iman membawa buah yang manis. Lima puluh dua tahun berjalan, keluarga Kristen ini tumbuh subur bak pohon di tepi aliran air. Setelah merampungkan 32 tahun masa pengabdian sebagai abdi negara (PNS), Pdt. CU Turupadang kini mendedikasikan sisa hidupnya sepenuhnya sebagai hamba Tuhan dan aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan serta lembaga keumatan.
Tuhan tidak hanya memberkati pelayanannya, tetapi juga keturunannya. Tujuh orang putra dan putri mereka kini telah tumbuh dewasa, berhasil mengecap profesi mulia mulai dari dokter hingga ASN dan sektor swasta. Kebahagiaan itu kian lengkap dengan kehadiran 12 orang cucu yang menjadi pengisi hari tua mereka.
“Kami sekeluarga menggumuli, seperti apa bentuk nyata untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang luar biasa ini. Setelah mendengar berbagai masukan dari keluarga, kami sepakat menggelar acara syukuran Ma’Bua’ Kale . Sebuah tradisi bersyukur yang di dalamnya kami jalani sepenuhnya dengan fondasi iman Kristen,” ungkap Pdt. C.U Turupadang yang juga biasa disapa neneknya Laso’ Turupadang dengan binar mata penuh sukacita.
Selain jadi tokoh agama ia juga mengemban sebagai amanah Parengnge (pemimpin adat ) di Tongkonan Rantepao Daoan, Mebali
Ma’Bua’ Kale , ketika iman dan budaya berpaut. Bagi masyarakat Toraja, Ma’Bua’ kale ( secara harfiah berarti mensyukuri buah atau berkah yang melekat pada diri dan tongkonan) berada di strata tertinggi dalam upacara kegembiraan Rambu Tuka’
Ma’Bua’ Kale atau syukuran khusus ini adalah ekspresi syukur pribadi. Ma’ Bua’ juga sangat erat hubungannya dengan wilayah adat; ada yang untuk syukuran rumah, ada juga untuk syukuran panen,” urai To Mina Marthen Ruru’, pemangku adat setempat yang mengawal ritual ini.
Karena syarat adatnya yang sangat ketat dan membutuhkan persiapan bertahun-tahun serta biaya yang masif, ritual ini sudah sangat jarang dilaksanakan di Toraja. Namun, bagi keluarga Pdt. CU Turupadang, pengorbanan puluhan ekor babi dan 24 ekor kerbau dalam ritual tiga hari ini bukanlah bentuk pemborosan, melainkan wujud totalitas persembahan syukur atas pemeliharaan Sang Pencipta.
Melalui Ma’Bua’ Kale’ nilai gotong royong (*sankan paropo*) dan ikatan kekerabatan (*siangkaran*) diuji sekaligus dipererat kembali. Ratusan keluarga, kerabat, dan warga kampung berbaur, mengambil peran, menari manimbong dan ma’ lambuk menyanyikan silsilah leluhur, serta menyaksikan bagaimana sebuah keluarga menghormati akarnya.
Langkah Pdt. C.U Turupadang, S.Th dan keluarga besar Tongkonan Rantepao Daoan Mebali memberikan sebuah pesan kuat bagi generasi muda Toraja: bahwa menjadi seorang Kristen yang taat tidak berarti harus mencerabut diri dari akar budaya yang luhur. Adat, ketika dibasuh oleh iman, justru menjelma menjadi altar syukur yang begitu indah dan humanis.
Perhelatan Ma’Bua’ Kale di Mebali ini pada akhirnya bukan sekadar catatan tentang keberhasilan sosial-ekonomi sebuah keluarga. Ia adalah sebuah refleksi kebudayaan yang bernilai tinggi bagi pelestarian identitas Toraja.
Di atas segalanya, acara ini adalah sebuah kesaksian iman tentang bagaimana 52 tahun berkat Tuhan dirayakan secara paripurna—dalam pelukan hangat iman Kristiani dan keagungan tradisi para leluhur.
(* fred (













