MEDIANTANEWS
JENEPONTO, — Potensi bawang merah di Desa Jenetallasa, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, kerap terbentur masalah klasifikasi hasil panen.
Bawang merah berukuran kerdil (under-sized) selama ini cenderung dijual dengan harga murah atau sebatas dialokasikan kembali sebagai bibit.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menghadirkan solusi lewat program penerapaan teknologi pascapanen berbasis pengawetan alami. Hasil panen yang semula kurang bernilai kini diolah menjadi produk sambal bawang goreng bernilai ekonomi tinggi.
Perwakilan mahasiswa KKN, Vira, menjelaskan bahwa bawang merah under-sized sebenarnya memiliki kualitas dan rasa yang senilai dengan bawang berukuran standar.
Menurutnya, potensi ini sangat layak dikembangkan menjadi produk pangan olahan agar bernilai jual lebih tinggi. Dukungan serupa disampaikan Dosen Pembimbing Kegiatan, Ilham Syarif, S.Pt., M.Si. Dalam pemaparan program kerja pada Rabu (12/6/2026), Ilham menegaskan bahwa inovasi pengolahan ini menjadi bentuk nyata diversifikasi produk pangan lokal. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan petani setempat.
“Inovasi ini mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus menjadi bentuk diversifikasi produk pangan di Desa Jenetallasa,” ujar Ilham.
Dalam proses produksinya, mahasiswa memanfaatkan teknik pengawetan alami tanpa bahan sintetis. Bawang merah terlebih dahulu direndam dalam larutan air garam untuk mereduksi kadar air sekaligus menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Setelah itu, proses penggorengan menggunakan minyak berkualitas berfungsi sebagai pelindung (sealing agent). Teknik ini menghasilkan tekstur renyah dan memperpanjang masa simpan produk secara aman.
Guna menjaga keberlanjutan program, tim KKN juga menyusun modul serta video panduan pembuatan secara terstruktur. Media pembelajaran ini diserahkan kepada kelompok tani, pengerak PKK, dan pelaku UMKM lokal sebagai acuan pengembangan usaha mandiri berbasis potensi daerah.
( andre-adv/ fred )













