MEDIANTANEWS —
JAYAPURA ,- Gelaran ayanan tikar terbentang mengitari pinggir ruang aula Gedung Tongkonan Jayapura pertanda sebuah ritual sedang dilakukan, tak ada kursi semua duduk bersila dengan penghormatan dan penyerahan diri.
Tradisi penuh dan syarat dengan kultur sakral ini dilakukan untuk menjadi ruang doa bersama , diawali prosesi adat melalui ungkapan keprihatinan serta doa pengharapan dalam kata dan bahasa sastra leluhur Toraja .

Di atasnya, ratusan warga merundukkan kepala dalam suasana hening yang sarat kekhusyukan. Mereka berdoa secara kolektif agar menjadi pelopor kedamaian di tanah Papua , berdoa bagi kampung halaman dan keluarga di mana berada agar senantiasa dalam lindungan Tuhan
Tradisi Ma’ Ballaran Ampa—sebuah ritual leluhur Toraja yang sarat makna spiritual dan refleksi diri—menjadi bingkai berdirinya kepengurusan baru Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua periode 2026–2031.
Tempat ini menjadi ruang ritual yang tak biasa sarat dengan penyerahan diri dan kesadaran akan segala perbuatan yang salah dan mohon pengampunan dari Tuhan sang pencipta , memperbaiki relasi kepada Tuhan, sesama dan lingkungan.
Tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Massuru’ ini bukan sekadar seremoni perayaan usai pengukuhan pengurus oleh Gubernur Papua pada 8 Oktober 2026 lalu. Bagi masyarakat Toraja di tanah perantauan, ritual ini menjadi wadah rekonsiliasi, penyesalan atas khilaf, serta ungkapan rasa syukur untuk memohon perlindungan Sang Pencipta.
Ketua Umum IKT Papua, AKBP Zet Saalino, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa prosesi ini sengaja digelar sebagai ruang perenungan bersama atas beragam dinamika dan peristiwa yang dialami warga Toraja di Bumi Cendrawasih maupun di tanah kelahiran.
Banyak peristiwa yang memiluhkan namun banyak juga berkat yang dirasakan yang selama ini tidak pernah dimaknai dalam pertimbangan dan rasa bersalah serta ucapan syukur
“Ini adalah bentuk rekonsiliasi dan refleksi kami. Kami memanjatkan doa bersama agar Papua senantiasa menjadi rumah yang aman, damai, dan menyejukkan bagi semua suku. Pada saat yang sama, ketukan doa ini kami arahkan pula ke kampung halaman, Tondok Toraya, yang sangat kita cintai,” ujar Zet Saalino di sela-sela kegiatan.
Ibadah yang melintasi berbagai denominasi tersebut mempertemukan perwakilan kerukunan warga Toraja dari berbagai penjuru Papua. Berbalut busana adat yang anggun, para tokoh adat dan perantau mengawali prosesi dengan ritual Ma’ Ballaran Ampa.
Suasana kekeluargaan kian mengental saat prosesi makan bersama digelar. Tanpa sekat dan piring mewah,hidangan disajikan di atas hamparan daun pisang segar. Tradisi ini menjadi simbol kerendahan hati,kesederhanaan, serta solidnya rasa kebersamaan dalam menaikkan permohonan kepada Tuhan.
Melalui doa bersama ini, perantau Toraja menyampaikan simpati mendalam atas musibah yang belakangan melanda tanah kelahiran—mulai dari kebakaran yang menimpa pekuburan adat hingga insiden petugas yang tertimpa pohon saat mengendalikan api.
Semua itu kata dia turut jadi keprihatinan rasa bersalah untuk memohon kepada ampun kepada Tuhan agar senantiasa kehidupan mereka dipulihkan dengan berkat kasih setia Tuhan dan sang pencipta.
“Kami berduka dan mendoakan saudara-saudara kita di Toraja. Kami juga mengetuk hati seluruh jajaran pemerintah di daerah agar senantiasa menjalankan roda pelayanan dengan memegang teguh prinsip takut akan Tuhan,” tutur Zet.
Lebih dari sekadar ritual pertobatan, Ma’ Ballaran Ampa memuat amanat leluhur untuk menjaga harmoni—baik dengan sesama warga Toraja, masyarakat adat Papua, maupun dengan suku-suku perantau lainnya.
Nilai luhur pessiparan bagi to membali puang ( mendoakan para leluhur ) turut memicu kesadaran kolektif , menjaga kelestarian alam, baik di tanah perantauan maupun di Tana Toraja, Toraja Utara, dan Mamasa.
Langkah awal kepengurusan IKT Papua ini menegaskan bahwa sejauh apa pun merantau, nilai spiritualitas,penghormatan pada budaya, dan komitmen menjaga perdamaian tetap menjadi pijakan utama warga Toraja di Tanah Papua.
(* /fred)













