iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta

Menuju SSA 26 Gereja Toraja ; Kompromi Struktur dan Asa Pendidikan Serta Kesehatan




Bagikan:

MEDIANTANEWS

MAKALE, — Aroma musyawarah yang teduh mulai terasa menjelang Sidang Sinode Am (SSA) Ke-26 Gereja Toraja yang akan digelar di Palopo, 9 sampai 14 Juli 2026. Wacana penyusunan struktur ‘kabinet’ Badan Pekerja Sinode (BPS) secara kompromistis dan aklamasi kian menguat di permukaan.




Namun, di balik riuh penataan struktural tersebut, esensi sejati dari sebuah persidangan gerejawi adalah tentang bagaimana merajut masa depan umat.

Harapan itu diembuskan oleh Yusuf Pangaroan, SE., MM., seorang aktivis Gereja Toraja dari Klasis Makassar Timur . Ia mengetuk kesadaran bersama agar proses pengisian jabatan di tubuh BPS dilakukan dengan bersahaja, tanpa kehilangan marwah demokratis, dan tetap berlandaskan iman yang melayani.

Menurut Yusuf, perdebatan tentang siapa menduduki posisi apa—baik ketua bidang maupun wakil ketua—memang penting untuk mengakomodasi kapasitas dan keterwakilan wilayah. Namun, ada hal yang jauh lebih mendesak: arah kebijakan pelayanan lima tahun ke depan.

“ Perjalanan pengurus BPS saat ini sebenarnya sudah meletakkan fondasi yang baik. Sistem yang optimal, efektif, efisien, serta akuntabel kini mulai terbangun lewat digitalisasi data keanggotaan dan keuangan, termasuk penataan aset-aset gereja yang sebelumnya belum maksimal,” ujar Yusuf yang juga kini jadi anggota DPRD Tana Toraja , Kamis 11 Juni 2026

Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa kapal besar bernama Gereja Toraja ini menyentuh kebutuhan paling mendasar warganya: pendidikan dan kesehatan. Dua sektor yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan manusia.

Di sektor pendidikan, Yusuf mendorong adanya langkah progresif dan inklusif. Gereja tidak boleh berjalan sendiri.

“Kita perlu meningkatkan dan mengoptimalkan sektor pendidikan, misalnya dengan membangun kemitraan strategis bersama lembaga pendidikan yang sudah teruji seperti lembaga pendidikan IPEKA, PENABUR, atau jaringan lainnya. Ini adalah kebutuhan mutlak demi masa depan generasi muda gereja kita,” tegasnya.

Tak kalah krusial, sektor kesehatan juga menjadi catatan penting. Baginya, menghadirkan pelayanan kesehatan yang prima bukan sekadar urusan membangun gedung, melainkan tentang menyiapkan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia (SDM) yang melayani dengan hati.

SSA Ke-26 di Palopo nanti bukan sekadar panggung politik gerejawi untuk membagi peran. Lebih dari itu, ia adalah sebuah momentum humanis—tempat di mana kompromi struktur melahirkan komitmen tulus demi mencerdaskan dan menyehatkan umat.

Dari berbagai sumber, nama Pdt Dr Alfred Anggui yang kini jadi Ketum BPS disebut – sebut masih sangat kuat untuk untuk oppo memimpin BPS periode mendatang .

(*/fred)


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses