MEDIANTANEWS
Matahari siang menyambut di jalur lingkar utara Plaza Kolam Makale tak meredupkan semangat warga dari berbagai sudut kita dan kampung seketika berkumpul , Sabtu sore, 25 April 2026. Doa dan keprihatinan bersama digelar disitu , bagaimana acara tersebut dihelat, berikut laporannya
Frederich : Makale, Tana Toraja
Semangat yang menyala di depan Gedung DPRD Tana Toraja justru semakin membara pagi hingga siang . Hari itu, panggung beton bak tribun mini berubah fungsi menjadi altar suci—sebuah mimbar persatuan bagi mereka yang resah akan masa depan Bumi Lepongan Bulan.

Lautan manusia memadati lokasi. Bukan sekadar seremoni, kehadiran lintas agama, Organisasi Kepemudaan (OKP), Ormas, siswa-siswi OSIS, PKK, hingga Pramuka, mengirimkan satu pesan kuat yang sama: Tana Toraja sedang berperang melawan penyakit sosial.
Di tengah kerumunan itu, Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, tampak tertegun. Ada getaran yang tak bisa ia sembunyikan saat melihat dedikasi warga yang tumpah ruah. Baginya, pemandangan ini bukan sekadar kerumunan massa, melainkan bukti cinta yang nyata terhadap tanah leluhur.
Acara yang diinisiasi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tana Toraja ini lahir dari rahim keprihatinan. Penyakit sosial seperti judi yang kerap “berlindung” di balik dalih adat, ancaman narkoba yang mengintai sekolah-sekolah dan generasi muda kian menjadi – jadi , hingga hiruk-pikuk Tempat Hiburan Malam (THM) yang tak terkendali, dianggap sebagai kanker yang mulai menggerogoti karakter generasi muda Toraja, karena disinyalir selain sebagai potensi muncul pergaulan bebas dan prilaku transaksi seks serta narkoba.
Pernyataan sikap dibacakan secara bergantian dari perwakilan ormas dan tokoh dan wakil denominasi gereja . Keprihatinan diungkapkan dengan lantang. Suasana semakin khidmat saat doa-doa dipanjatkan secara bergantian menurut keyakinan masing-masing, memohon kekuatan untuk memutus rantai penyimpangan yang tak sesuai dengan nilai budaya dan agama.
Sesaat sebelum menandatangani komitmen bersama, Zadrak Tombeg didampingi Ketua DPRD Tana Toraja, Kendek Rante, berdiri dengan suara yang sedikit parau karena haru. Dukungan masif dari seluruh lapisan masyarakat seolah menjadi “suplemen” bagi pemerintah untuk lebih berani bertindak.
“Kami terharu atas kegiatan ini. Kehadiran kita saat ini adalah wujud nyata komitmen yang kuat. Ini adalah bukti kecintaan kita untuk kebaikan Tana Toraja,” ujar Zadrak dengan nada dalam.
Ia meyakini bahwa dengan kebersamaan dan kekuatan doa, segala dinamika dan penyimpangan yang tidak sesuai dengan adat serta budaya Toraja dapat diselesaikan secara tuntas
Momentum ini juga dihadiri oleh Irjen Pol (Purn) Frederik Kalalembang, anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, serta jajaran Forkopimda. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini mempertegas bahwa persoalan penyakit sosial di Toraja sudah menjadi atensi nasional.
Ketua FKUB Tana Toraja, Pdt. Azer Ilu, merangkum kegelisahan publik dalam butir-butir tuntutan yang tajam. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara segera menerbitkan regulasi khusus terkait pemberantasan judi. Tak hanya itu, penutupan THM yang tak berizin serta tindakan tegas dari aparat penegak hukum menjadi poin utama yang harus segera dieksekusi.
Kini, setelah doa diaminkan dan pernyataan sikap ditandatangani, warga Tana Toraja menanti satu hal: aksi nyata dari komitmen yang lahir di atas “altar persatuan” Makale tersebut. Sebab, melawan penyakit sosial bukan hanya butuh air mata haru, tapi juga tangan besi yang berani.
( * / fred )













