EDITORIAL MEDIANTANEWS
KABUT duka yang menyelimuti langit Tana Toraja pekan ini bukan sekadar penanda kepergian seorang mantan kepala daerah. Kepergian Ir. Nikodemus Biringkanae di usianya yang ke-70 di RS Elim Rantepao adalah episode berdua bagi segenap masyarakat yang pernah disentuh oleh gaya kepemimpinannya yang khas: merakyat, berkarakter, dan penuh kehangatan.
Toraja tidak hanya kehilangan seorang politisi atau mantan birokrat, melainkan kehilangan Ambekna Punu—sosok pengayom yang menjadikan jabatan politik sebagai sarana merawat kemanusiaan dan menjaga marwah adat budaya.
Membaca rekam jejak Nikodemus Biringkanae adalah membaca perjalanan seorang pamong sejati yang ditempa dari bawah. Sebelum menduduki puncak kepemimpinan sebagai Bupati Tana Toraja periode 2016–2021 bersama wakilnya Victor Datuan Batara, ia telah melintasi lorong-lorong panjang birokrasi. Mulai dari Kepala Dinas PU hingga Kepala Bappeda Tana Toraja, hingga kemudian dipercaya memimpin Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan di era Gubernur Syahrul Yasin Limpo.
Namun, ketajaman insting sosial dan keluwesannya berinteraksi tidak lahir dari balik meja birokrasi semata. Ia adalah pemuda pergerakan yang mengasah kepemimpinannya di PPGT, GMKI, AMPI, hingga KNPI. Kombinasi antara kedisiplinan teknokratis dan keluwesan aktivis itulah yang membentuk karakternya: supel, mudah diakses, rendah hati, dan sangat menghargai pertemanan. Tak heran jika di belantara politik, sapaan hangat “Sangmaneku” menjadi simbol betapa almarhum mampu menembus sekat-sekat perbedaan tanpa kehilangan ketegasan sikap.
Keberhasilan terbesar seorang pemimpin bukan diukur dari megahnya bangunan fisik semata, melainkan dari sejauh mana orientasi kebijakannya berpihak pada martabat hidup rakyatnya. Di sinilah letak keunikan visi “Toraya Maelo” yang diusung Nico-Victor.
Di tengah rumitnya jargon-jargon pembangunan, Niko membumikannya lewat Tiga Pilar Pembangunan yang sangat lugas dan tanpa basa-basi:
* “Jangan Biarkan Rakyatku Bodoh”
* “Jangan Biarkan Rakyatku Sakit”
* “Jangan Biarkan Rakyatku Lapar”
Tiga kalimat di atas bukan sekadar slogan kampanye, melainkan manifesto moral seorang kepala daerah. Kerangka berpikir ini kemudian diterjemahkan secara konkret lewat berbagai inovasi dari akar rumput: hadirnya Rumah Singgah bagi warga tak berdaya, gagasan Sekolah di Bawah Pohon untuk menjangkau ketertinggalan pendidikan, hingga rekayasa Pola Tanam Semusim untuk menjaga ketahanan pangan petani.
Niko paham betul bahwa kemajuan materiil tanpa ikatan spiritual dan sosial hanya akan melahirkan ketimpangan. Oleh karena itu, ia memancangkan Tiga Dimensi Perekat Strategis: Getaran Sukma Ilahi(spiritualitas), Sentuhan Peduli Sesama (solidaritas sosial), dan Damai Torajaku (kerukunan). Pendekatan ini membuktikan kejeliannya dalam merawat harmoni Tana Toraja di atas landasan toleransi dan kearifan lokal.
Sebagai tokoh yang dikenal sangat dekat dengan para pemangku adat dan pemerhati budaya, Niko memposisikan kearifan lokal Toraja bukan sebagai pajangan seremonial, melainkan sebagai fondasi pembangunan. Bagi Niko, pembangunan yang mencerabut masyarakat dari akar budayanya adalah pembangunan yang kehilangan jiwa.
Kini, Sang Fenomenal telah berpulang. Namun, legacy atau warisan gagasan tentang kepemimpinan yang berperspektif humanis dan berakar budaya akan tetap membekas dalam ingatan kolektif masyarakat Tana Toraja.
Bagi kita yang ditinggalkan—khususnya para penyelenggara negara dan generasi muda—kepergian Nikodemus Biringkanae menyisakan pesan reflektif yang mendalam: bahwa kekuasaan sesungguhnya adalah alat untuk mengayomi, merawat rakyat kecil, dan menjaga marwah tumpah darah.
Selamat jalan, Ambekna Punu. Selamat jalan, Sangmaneku. Dedikasi dan cintamu pada Tana Toraja akan terus menyala.
( tim redaksi )













