MEDIANTANEWS
MAKALE, — Sebuah momen penuh haru dan linangan air mata mewarnai jumpa pers di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Tana Toraja, Rabu (2/9/2026). Kesalahpahaman yang sempat memicu kehebohan publik dalam peristiwa bertajuk ‘Tragedi Tarakko’ .
Dalam tuduhan istri bupati Tana Toraja tuding penjual Tarakko pembohong , akhirnya melunak, berujung pada pelukan hangat dan pengampunan yang tulus.
Dr. Erni Yetti, istri Bupati Tana Toraja yang juga Ketua TP PKK serta Ketua Dekranasda Tana Toraja, memberikan klarifikasi terbuka di hadapan awak media terkait tudingan yang menyebut dirinya telah mempermalukan Mersi (Mama Kasih), seorang pedagang kue tradisional Tarakko, pada perayaan HUT Kabupaten dan Hari Jadi Toraja, Senin (31/8/2026) lalu.
Dengan nada suara yang berat dan menyiratkan kesedihan mendalam, Dr. Erni menegaskan bahwa tak pernah ada niat sedikit pun di hatinya untuk menyakiti atau merendahkan rakyat kecil bahkan siapapun itu
Ia menceritakan bahwa ucapan “jangan bohong” yang sempat memicu prasangka sebenarnya disampaikan secara persuasif dan penuh kelembutan, sebagai bentuk edukasi moral agar pelaku UMKM senantiasa menjunjung kejujuran harga dalam berdagang—terutama saat mendengar kabar harga kue Tarakko mencapai Rp500 ribu per bungkus. Meski gubenur yang beli kelayakan kepercayaan nilai harga tetap dijaga ďari kepantasan. Harga pdrhari dari penjual tarakko hanya Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu rupiah.
“Niat saya baik, tidak ada niat untuk mempermalukan siapa pun. Saya justru bangga kepada mereka yang gigih berjuang mencari nafkah. Kejujuran adalah dasar dalam membina UMKM, dan saya menganggap mereka seperti keluarga sendiri,” ujar Dr. Erni dengan mata berkaca-kaca.
“Meskipun saya sempat dihujat dan di-bully, saya menerimanya dengan penuh kesabaran. Hari ini, saya bersyukur semuanya menjadi jelas,” lanjutnya mengusap air mata.
Suasana ruangan mendadak hening dan berganti haru ketika Mersi perlahan berjalan mendekat. Dr. Erni yang melihat kedatangannya langsung menyambut dan menyergap Mersi ke dalam pelukannya.
Kedua wanita itu larut dalam tangis, saling merengkuh erat, meluruhkan segala beban kesalahpahaman yang sempat menghimpit.
Mersi, dengan suara bergetar dan rasa bersalah yang mendalam, menyampaikan permohonan maafnya kepada Dr. Erni atas dampak viral yang merugikan nama baik ibu Ketua TP PKK bersama keluaraganya.
“Seharusnya saya yang meminta maaf kepada Ibu Bupati. Karena saya, Ibu sampai menjadi korban viral. Ini semua hanyalah kesalahpahaman. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan jika berkenan, mohon narasi serta foto kejadian kemarin dapat dihapus,” tutur Mersi sembari mendekap erat tangan Dr. Erni.
Tak berhenti pada kata maaf, ‘Tragedi Tarakko’ ini benar-benar berbuah berkat. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelaku usaha kecil, Dr. Erni memberikan bantuan peralatan tungku dan kompor baru untuk usaha kue Tarakko (kue berbahan dasar ubi dan gula merah) milik Mersi. Tak hanya itu, Dr. Erni juga berniat melunasi cicilan sepeda motor yang sehari-hari digunakan Mersi untuk menjajakan kuenya secara keliling.
Tindakan spontan yang tulus itu bukan karena ada masalah sebelumnya disikap mulianya itu karena memang Dr Erni Yetti jauh sebelumnya dikenal sebagai pribadi yang berjiwa sosial tinggi.
Kebahagiaan tersebut juga turut dirasakan oleh rekan sesama penjual Tarakko yang hadir dan menjadi saksi kunci kronologi kejadian sebenarnya. Ia ikut mendapatkan bantuan serupa sebagai wujud kepedulian dan dorongan semangat bagi penggiat UMKM di Tana Toraja.
Momen haru siang itu menjadi bukti bahwa di atas derasnya arus informasi dan prasangka, kejujuran hati, ketulusan maaf, dan kepedulian sosial mampu mengubah duka kesalahpahaman menjadi berkat yang menyejukkan.
( * / fred )













