MEDIANTANEWS
Kabupaten Mamasa, negeri indah yang ‘ dijanjikan ‘ surga kecil di pedalaman Sulawesi Barat, kian menjelma menjadi magnet baru bagi para pembuat kebijakan di level tertinggi Republik ini. Ada apa dengan Mamasa, berikut laporannya
Frederich Suselisu ; Jurnalis MEDIANTANEWS
Sejarah mencatat, di penghujung masa jabatannya pada tahun 2024 lalu, Presiden ke-7 Joko Widodo menginjakkan kaki di tanah adat ini. Kemarin Senin 2 November 2026 giliran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendarat di Lapangan Lambanan, menyuntikkan energi baru bagi gerak pembangunan daerah.
Jika magnet kehadiran para pemimpin nasional tersebut adalah sebuah syarat, maka kepemimpinan Bupati Mamasa Welem Sambolangi merupakan penyulut semangatnya.
Di tengah badai dan jeritan kebijakan fiskal daerah yang tertatih, kepemimpinan Welem justru menjadi pemacu gerak spirit gotong royong agar Mamasa segera keluar dari keterpurukan, bergerak maju, dan berdiri sejajar dengan daerah lain. Keterbatasan anggaran tidak memadamkan api perjuangan; Mamasa tetap berkobar dengan semangat membara untuk melangkah maju, mandiri, dan sejahtera dalam visi besar “Mamasa Menuju Mamase” .
Kehadiran berturut-turut para pemimpin bangsa dari era berbeda ini bukan sekadar kunjungan seremonial biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa suara dari pedalaman Mamasa kini terdengar lantang di Jakarta, sekaligus menjadi momentum emas untuk menyinergikan proposal daerah langsung ke jantung program strategis nasional.
Sejak pagi, kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Mamasa luruh oleh antusiasme warga yang memadati jalanan. Begitu turun dari helikopter, Wapres Gibran langsung disambut dengan prosesi adat tertinggi. Tubuhnya dibalut kain Sambu putih—simbol kehormatan dan kesucian tertinggi dalam kasta adat Mamasa—lengkap dengan penutup kepala Sapu dan tas tradisional Sepu.
Selain rangkaian protokoler resmi, sebuah momen menarik dan di luar skenario terjadi di tengah kunjungan kerja ini. Tanpa ada dalam jadwal resmi yang disusun paspampres, Wapres Gibran tiba-tiba meminta rombongan berbelok dan singgah ke Kantor Bupati Mamasa.
Momen spontan ini sontak membuat jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai Pemkab Mamasa yang tengah berjaga terkejut sekaligus antusias. Langkah santai Wapres memasuki area perkantoran daerah di sela-sela kepadatan jadwalnya menjadi perbincangan hangat, sekaligus menggambarkan gaya kepemimpinan lapangan yang cair dan penuh kejutan.
Namun, agenda paling menarik dan emosional hari ini justru terjadi di ruang-ruang kelas SMAN 1 Mamasa. Di sana, Gibran tidak hanya mendengarkan paparan formal di atas kertas, melainkan menyaksikan langsung potret buram fasilitas pendidikan pedalaman.
Berdialog langsung dengan Ketua OSIS SMAN 1 Mamasa, Deswita Maharani T. Karaeng, Wapres secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas lambatnya sentuhan pembangunan di sekolah tersebut.
“Saya mohon maaf ya sekolahnya sampai seperti ini. Katanya dari tahun ’80? Nanti kita perbaiki ya,” ucap Wapres Gibran berjanji.
Melihat atap bangunan yang bocor dan keluhan ketiadaan aliran listrik yang stabil, Gibran tidak menyembunyikan keterkejutannya. Sambil menoleh ke arah jajaran Pemkab Mamasa yang mendampinginya, ia menegaskan intervensi penuh dari pusat.
“Kurang banget. Ini rusak. Makanya kita ke sini ya. Nanti kita revitalisasi ya. Iya, semuanya nanti kita perbaiki,” tutur Gibran lugas, menyanggupi renovasi total sekolah, ruang kelas baru, fasilitas olahraga, hingga pembangunan musala yang dimohonkan para siswa.
Mendengar komitmen langsung dari Wakil Presiden, Pemerintah Kabupaten Mamasa langsung merespons dengan kesiapan penuh. Kehadiran Wapres yang melihat langsung kondisi riil di lapangan dinilai sebagai berkah yang harus dikawal secara taktis melalui kesiapan proses administrasi dan koordinasi yang cepat tanpa hambatan agar revitalisasi fasilitas pendidikan segera terealisasi.
Suasana kian emosional saat Gibran meninjau RSUD Kondosapata. Di tengah barikade ketat Paspampres, seorang ibu paruh baya nekat menerobos pengamanan demi bisa memeluk erat sang Wakil Presiden. Momen dramatis itu menjadi representasi nyata dari besarnya harapan yang digantungkan masyarakat.
Namun, di balik gempita tersebut, kedatangan Gibran juga membawa gaung ingatan masa lalu. Masyarakat lokal dan para aktivis setempat secara lantang menyuarakan tagihan atas janji yang sempat ditinggalkan Presiden Jokowi saat berkunjung akhir tahun 2024 lalu: pembangunan Pasar Rakyat Mamasa.
Hingga kini, para pedagang masih bertahan di pasar darurat. Publik berharap kedatangan Gibran kali ini benar-benar mengunci kepastian anggaran pusat agar janji masa lalu itu tidak menjadi utang sejarah yang berkepanjangan.
Dari Mamasa, Gibran segera bertolak menggunakan helikopter menuju Kecamatan Bonehau, Mamuju, untuk menghadiri peringatan Satu Abad Injil Masuk Tanah Kalumpang dan berdialog dengan petani kakao.
Namun, jejak langkahnya di Mamasa telah meninggalkan pesan yang mendalam. Mamasa kini menolak untuk dilupakan, mengetuk pintu pembuat kebijakan agar pembangunan bergerak merata hingga ke puncak-puncak gunung tertinggi di Sulawesi Barat.
( int / fred )













