MEDIANTANEWS : EDITORIAL
Sepekan lagi, bentang alam Rantepao dan Tallunglipu di Toraja Utara tidak hanya akan dipenuhi kabut pagi yang magis, tetapi juga riuh rendah perjumpaan ribuan pria Gereja Toraja
Pertemuan Raya (Praya) III, Pesparawi III, dan Raker V ( Prawira ) Persekutuan Kaum Bapak Gereja Toraja (PKBGT) yang digelar pada 28–31 Oktober 2026 bukan sekadar kalender organisasi tahunan.
Ini adalah sebuah momentum kultural dan spiritual yang meletakkan kembali posisi kaum bapak sebagai tiang penyangga—baik di dalam rumah tangga, gereja, maupun masyarakat.
Di sela-sela persiapan logistik dan konsolidasi kontingen dari berbagai penjuru klasis, ada satu elemen yang terus berdengung di ruang-ruang latihan: “Uleleanna Muane Batta’”.
Lagu wajib Pesparawi III ciptaan komposer legendaris Toraja, Yafet Palebangan, ini bukan sekadar deretan notasi yang harus dinyanyikan dengan harmoni yang presisi. Lebih dari itu, karya ini adalah sebuah narasi teologis dan kultural yang mendalam—sebuah cermin bagi setiap anggota PKBGT.
Secara harfiah, Uleleanna Muane Batta dapat dimaknai sebagai penuturan atau kisah tentang sosok lelaki yang tangguh dan berani. Melalui syairnya, Yafet Palebangan berhasil merekonstruksi ulang jati diri pria Toraja. Dalam falsafah tradisional, keperkasaan sering kali diukur dari kekuatan fisik, materi, atau status sosial.
Namun, lagu ini membawa pesan melompat lebih tinggi: bahwa Muane Batta’ (lelaki sejati) dalam iman Kristen adalah mereka yang memiliki integritas, berjalan di jalan yang lurus, bersikap adil, serta menaruh seluruh sandaran hidup dan langkahnya hanya kepada Tuhan.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan pergeseran nilai sosial hari ini, tantangan menjadi seorang bapak kian kompleks. Laki-laki tidak lagi hanya dituntut menjadi pencari nafkah materiil, tetapi juga menjadi benteng moral, pembawa damai, dan teladan iman di tengah keluarga.
Melalui bait-bait lagu wajib tersebut, PKBGT seolah ingin menghentak kesadaran kolektif kita: bahwa ketangguhan seorang pria Toraja tidak diukur dari ego atau dominasi, melainkan dari ketulusan untuk mengabdi dan melayani.
Nilai tulus inilah yang menjadi roh dari perhelatan tahun ini. Tulus dalam merawat persekutuan, tulus dalam beradu harmoni di panggung Pesparawi, dan tulus dalam merumuskan kebijakan strategis organisasi pada Rapat Kerja (Raker) V nanti.
Kita harus melihat Prawira ini melampaui keriuhan sebuah festival. Ketika ribuan kaum bapak berkumpul di Toraja Utara sepekan ke depan, dinamika yang lahir dari Raker V harus mampu menjawab persoalan riil akar rumput.
Bagaimana kaum bapak Gereja Toraja merespons tantangan ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan hidup di tengah ancaman krisis iklim global, hingga membimbing generasi muda Toraja agar tidak kehilangan akar budayanya?
Tuan rumah Klasis Rantepao dan Klasis Tallunglipu telah membuka pintu lebar-lebar dengan segala keramahtamahan khas Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo. Kini, bola tanggung jawab ada di tangan seluruh kontingen dan kader PKBGT yang datang dari berbagai pelosok nusantara.
Sepekan menuju hari bersejarah itu, mari kita tidak hanya mempersiapkan suara untuk meraih podium di Pesparawi, atau menyiapkan argumen untuk bersuara di ruang sidang Raker. Lebih dari itu, mari mempersiapkan hati.
Saatnya menggaungkan Uleleanna Muane Batta’—bukan sekadar sebagai kidung yang memukau telinga di panggung kompetisi, melainkan sebagai manifesto hidup yang dihidupi dengan tulus oleh setiap kaum bapak Gereja Toraja. Selamat menjemput Praya III, Pesparawi dan Raker V PKB- GT selamat merajut harmoni untuk kemuliaan yang lebih besar.
( * / fred )













