MEDIANTANEWS.COM
MAKALE — Komitmen Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam mewujudkan daerah berbasis inklusif terus diwujudkan melalui aksi nyata.
Pada arena Car Free Day (CFD) di Plaza Kolam Makale, Sabtu (25/7/2026), kehadiran gerai cafe Inklusif Coffee menjadi salah satu daya tarik utama warga.
Kedai kopi yang dikelola langsung oleh kelompok penyandang disabilitas ini merupakan program binaan Pemkab Tana Toraja melalui Dinas Sosial, bekerja sama dengan Yayasan Eran Sangbure Mayang (YESMa), Pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia ( PPDI ) DPC Tana Toraja serta dukungan Sentra Wirajaya Makassar.
Aktivis YESMa yang aktif mendampingi pemberdayaan disabilitas melalui Program Inklusi, Lenynda Tondok, mengungkapkan bahwa penyediaan ruang di pusat keramaian CFD merupakan bukti nyata perhatian Pemkab Tana Toraja terhadap ruang kesetaraan.
“Sebelumnya teman-teman disabilitas dibekali pelatihan meracik kopi dan pengelolaan UMKM. Kami mengapresiasi Pemkab Tana Toraja yang tidak hanya memberi dorongan, tetapi juga memfasilitasi wadah dan lokasi yang sangat strategis bagi usaha ini,” ujar Lenynda di gerai Inklusif Coffee, Sabtu.
Keterlibatan para penyandang disabilitas dalam mengisi stan UMKM di CFD tidak lepas dari rangkaian pembekalan komprehensif. Melalui kerja sama dengan Sentra Wirajaya Makassar, mereka mendapatkan bantuan peralatan serta pelatihan berbasis kompetensi.
Cici Amelia Kadang, salah satu pengelola gerai Inklusif Coffee, menceritakan pengalamannya mengikuti pelatihan barista hingga lulus uji kompetensi. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam mulai dari pemrosesan biji kopi, teknik penggunaan alat, hingga variasi resep minuman kopi dan non-kopi.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkab Tana Toraja dan seluruh pihak yang terlibat. Setelah belajar membuat kopi, di lapak CFD ini kami belajar mandiri berwirausaha agar bisa memiliki penghasilan sendiri. Semoga ke depan makin banyak teman-teman disabilitas yang mendapat kesempatan serupa,” tutur Cici.
Langkah Pemkab Tana Toraja memfasilitasi lapak di ruang publik ini diharapkan menjadi pemantik keterlibatan aktif kelompok disabilitas dalam roda perekonomian daerah, sekaligus mengikis stigma melalui aksi nyata dan karya berkualitas.
( Rsd / Fred )













