iklan-hut-medianta

iklan-hut-medianta
iklan-hut-medianta

Bupati Welem Bidik MURI Lewat Sruput Kopi Mamasa Pake Suke Bambu

Bagikan:

MEDIANTANEWS

MAMASA , Bupati Mamasa Welem Sambolangi memimpin rapat koordinasi dengan sebuah gagasan hebat : mengukir sejarah baru perayaan HUT ke-81 RI sekaligus membidik rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), Selasa 4 Agustus 2026 di rujab bupati.



Bagi Welem, Peringatan Kemerdekaan 17 Agustus 2026 harus menjadi panggung pembuktian kedaulatan ekonomi dan budaya tanah Mamasa. Momen ini dirangkaikan dengan rasa syukur atas diterbitkannya Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Mamasa dan Kopi Robusta Mamasa oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI.

Untuk merayakannya secara kolosal, Pemerintah Kabupaten Mamasa bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyepakati agenda besar Sruput Kopi Mamasa Serentak.

“Terbitnya Sertifikat Indikasi Geografis merupakan sejarah baru bagi Kabupaten Mamasa. Ini adalah buah kerja keras bersama antara pemerintah daerah, petani, KTNA, MPIG, akademisi Politani Pangkep, serta seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, rasa syukur ini ingin kita persembahkan dan rayakan bersama seluruh masyarakat,” ujar Welem dengan nada optimis di hadapan para peserta rapat dikutip dari Media MdB terbitan Mamasa.

Aksi penyeruputan kopi yang berpotensi memecahkan rekor ini ditargetkan melibatkan 17.826
peserta—angka simbolis penanda hari kemerdekaan.

Acara nantinya akan dipusatkan di Lapangan Kondosapata serta bergerak serentak di seluruh wilayah kecamatan se-Kabupaten Mamasa.
Uniknya, tak ada cangkir porselen atau gelas plastik dalam aksi ini.

Seluruh warga akan memegang suke, cangkir bambu tradisional khas Mamasa bertinggi minimal 7 sentimeter dan diameter 6 sentimeter.

Setiap suke wajib direndam semalam dan dibersihkan sebelum digunakan. Panitia bahkan memberi ruang bagi warga untuk menyalurkan kreativitas seni ukir lokal pada permukaan bambunya, lengkap dengan penganugerahan bagi kategori.

Kemeriahan perayaan kemerdekaan ini makin sarat makna budaya lewat gelaran pemilihan Baine Matatta dan Muane Masokan, ajang pencarian figur muda yang mengusung keanggunan serta kearifan lokal Mamasa.

Lahirnya pengakuan resmi negara atas keaslian rasa dan karakteristik Kopi Mamasa bukanlah hadiah spontan, melainkan hasil perjuangan diplomasi dan akademis yang dikawal langsung oleh Bupati Welem Sambolangi. Sebelum penetapan resmi diterbitkan, Welem memboyong jajarannya melawat ke Jakarta untuk beraudiensi langsung dengan DJKI Kementerian Hukum RI.

Proses panjang tersebut turut didukung oleh kajian mendalam Tim Pakar Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Politani Pangkep), mulai dari penyusunan dokumen ilmiah, verifikasi lapangan, hingga lolos pemeriksaan substantif.

Bagi Welem, Sertifikat Indikasi Geografis bukan sekadar selembar kertas legalitas, melainkan perisai hukum yang melindungi keaslian cita rasa biji kopi pegunungan Mamasa dari klaim pihak luar. Lebih jauh lagi, pengakuan ini memegang janji manis bagi peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan para petani di hulu.

Persiapan teknis pendataan peserta kini memasuki tahap krusial demi memastikan kelancaran verifikasi dan validasi jumlah peserta.

Tingkat Kecamatan: Setiap kecamatan diwajibkan menyiapkan sedikitnya 1.000 cangkir bambu suke yang tersusun rapi di atas meja pada 10 dan 17 Agustus 2026 untuk didokumentasikan dan diverifikasi oleh petugas.

Tingkat Kota Mamasa: Seluruh OPD dan organisasi di wilayah perkotaan diminta mengumpulkan suke berindentitas instansi ke Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga paling lambat 10 Agustus 2026 dalam kondisi bersih dan siap pakai.

Pada detik-detik puncak perayaan 17 Agustus nanti, riuh alunan musik tradisional dan pelepasan balon ke udara akan mengiringi komando peluncuran.

Saat aba-aba digemakan, puluhan ribu warga secara serentak akan mengangkat sule setinggi dada, lalu menyeruput kopi asli hasil keringat petani Mamasa.

Rangkaian acara ini juga disiarkan secara daring agar kebanggaan dari pelosok pegunungan Sulawesi Barat ini dapat disaksikan oleh mata dunia.

Melalui kepemimpinan Welem Sambolangi, Kabupaten Mamasa tidak hanya sedang memeringati hari lahir bangsa, tetapi juga siap mengukir nama di rekor nasional: membawa harum aroma kopi lokal menembus batas-batas baru.

( adv / fred )


Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses